Israel-Hizbullah Disebut Sepakat Gencatan Senjata, Ledakan Masih Terdengar Di Lebanon

as-klaim-israel-hizbullah-sepakati-gencatan-senjata-di-tengah-serangan-lanjutan-ke-lebanon-1781957969556

Serangan udara Israel hingga Jumat menewaskan 47 orang, menurut keterangan pihak Lebanon (Reuters)

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Amerika Serikat mengklaim Israel dan kelompok Hizbullah telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Jumat (19/06). Namun, di tengah pengumuman tersebut, wilayah Lebanon selatan masih terus menjadi sasaran serangan udara Israel.

Kesepakatan itu muncul setelah meningkatnya kekhawatiran bahwa eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah dapat mengganggu upaya yang lebih luas untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran.

Puluhan Orang Tewas Akibat Serangan Israel

Menurut laporan BBC, serangan udara bertubi-tubi Israel di Lebanon selatan telah menewaskan sedikitnya 47 orang.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa gencatan senjata telah mulai diberlakukan. Namun, tidak lama setelah itu, seorang juru bicara militer menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap menjalankan operasi terhadap ancaman yang dianggap mendesak.

Juru bicara tersebut mengatakan bahwa pasukan Israel akan:

“Terus bergerak untuk melenyapkan ancaman yang datang seketika.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meski gencatan senjata diumumkan, Israel masih membuka kemungkinan melakukan operasi militer jika menilai ada ancaman langsung.

Hizbullah Belum Memberikan Konfirmasi Resmi

Hingga pengumuman disampaikan, Hizbullah belum mengeluarkan konfirmasi resmi mengenai adanya kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Meski demikian, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menyampaikan bahwa kelompok yang dipimpinnya tidak berhasil dihancurkan oleh operasi militer Israel.

Dalam pernyataannya, Sheikh Naim Qassem mengatakan:

“Rencana untuk melenyapkan Hizbullah telah gagal.”

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Hizbullah masih menganggap dirinya mampu bertahan meskipun menghadapi serangan yang terus berlangsung.

Kekhawatiran Konflik Mengganggu Kesepakatan AS-Iran

Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah disebut muncul setelah bentrokan beberapa hari terakhir semakin intens.

Sebelumnya, serangan Hizbullah dilaporkan menewaskan empat tentara Israel di wilayah Lebanon. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang terus berlanjut dapat menggagalkan upaya diplomatik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca juga:  Soal Iuran BoP, Prabowo: Indonesia Tidak Pernah Janji Bayar USD 1 Miliar

Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa kedua pihak telah menyetujui penghentian sementara permusuhan.

Sementara itu, seorang pejabat senior Israel dan dua sumber dari Hizbullah juga mengonfirmasi adanya kesepakatan tersebut kepada Reuters. Gencatan senjata disebut mulai berlaku pada pukul 16.00 waktu setempat.

Israel Tetap Pertahankan Pasukan di Lebanon Selatan

Meski gencatan senjata diumumkan, Israel menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan.

Seorang pejabat Israel mengatakan:

“Jika Hizbullah tidak menyerang kami, maka bagi kami ini bukan waktu perang.”

Pejabat tersebut juga menambahkan bahwa pasukan Israel akan tetap bertahan di wilayah Lebanon selatan.

Di sisi lain, Hizbullah membantah telah melanggar kesepakatan dan justru menuduh Israel berulang kali melanggar ketentuan gencatan senjata.

Kelompok itu menuduh Israel terus melakukan serangan yang menewaskan warga sipil, menghancurkan rumah-rumah dan infrastruktur, serta melanjutkan operasi darat di Lebanon.

Pertempuran Sengit Terjadi Sebelum Gencatan Senjata Berlaku

Sebelum kesepakatan diumumkan, pertempuran sengit terjadi di kawasan Ali al-Taher, sebuah dataran tinggi strategis di utara Sungai Litani.

Sumber keamanan Lebanon menyebut wilayah tersebut menjadi fokus operasi militer Israel. Sementara Hizbullah mengklaim para pejuangnya berhasil menyergap pasukan Israel yang bergerak menuju daerah tersebut.

Hizbullah mengatakan mereka menghancurkan tiga tank Merkava menggunakan rudal berpemandu dan menyerang pasukan Israel dengan roket serta artileri. Kelompok itu juga mengklaim menyerang pasukan tambahan Israel yang datang untuk mengevakuasi korban.

Korban Jiwa Terus Bertambah

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 3.912 orang telah tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret.

Jumlah tersebut mencakup tenaga medis, perempuan, dan anak-anak.

Di pihak Israel, sedikitnya 32 tentara dan empat warga sipil dilaporkan tewas dalam gelombang konflik terbaru dengan Hizbullah.

Baca juga:  Rafah Dibuka Lagi: Langkah Baru Dalam Rencana Gencatan Senjata Israel-Hamas

Gencatan Senjata Masih Rapuh

Sehari setelah kesepakatan diumumkan, serangan udara Israel dilaporkan masih terjadi di sejumlah wilayah Lebanon selatan dan Lembah Bekaa.

Militer Israel menyatakan serangan itu dilakukan sebagai respons terhadap lebih dari 50 proyektil yang ditembakkan Hizbullah ke arah pasukan Israel. Kedua pihak sama-sama menyatakan tetap berkomitmen terhadap gencatan senjata, tetapi saling menuduh melakukan pelanggaran.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kesepakatan yang diumumkan Amerika Serikat masih sangat rapuh dan belum sepenuhnya mampu menghentikan konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement