Ekonomi Melesat, Vietnam Dan Filipina Resmi Masuk Kategori Menengah Atas Versi Bank Dunia

ngeri-badai-phk-ikut-hantam-pekerja-vietnam-4_169

Foto: AFP via Getty Images/NHAC NGUYEN

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Bank Dunia secara resmi menaikkan klasifikasi ekonomi dua negara Asia Tenggara, Vietnam dan Filipina, menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income). Keputusan strategis ini ditetapkan setelah kedua negara menunjukkan ekspansi ekonomi yang pesat dan konsisten selama bertahun-tahun.

Melansir laporan The Straits Times (3/7), dengan kenaikan status komparatif ini, kini terdapat lima negara anggota ASEAN yang menduduki kategori berpendapatan menengah atas ke atas. Vietnam dan Filipina kini bersanding bersama Singapura, Malaysia, dan Thailand yang telah lebih dulu berada di kelompok tersebut.

Berdasarkan rilis resmi Bank Dunia, Vietnam sebelumnya telah berada di kategori negara berpenghasilan menengah ke bawah sejak tahun 2009. Sementara itu, Filipina mencatatkan waktu yang jauh lebih lama, tertahan di kategori menengah ke bawah sejak akhir tahun 1980-an. Pembaruan status ini dinilai berpotensi besar mendongkrak kepercayaan investor global terhadap stabilitas dan prospek ekonomi kedua negara.

“Model pertumbuhan berbasis ekspor Vietnam dan ekspansi berbasis luas Filipina yang mencerminkan peningkatan di semua industri utama, bukan hanya peningkatan di satu sektor, tetapi pergeseran ekonomi secara keseluruhan,” jelas pihak Bank Dunia dalam rilisnya.

Melampaui Ambang Batas Pendapatan Global

Lompatan kelas ini didukung oleh capaian Pendapatan Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Income (GNI) per kapita yang solid pada tahun 2025. Pendapatan per kapita Vietnam tercatat menyentuh angka US$ 4.970 atau setara Rp 89,28 juta (mengacu asumsi kurs Rp 17.964 per dolar AS).

Di sisi lain, Filipina membuntuti dengan raihan GNI per kapita sebesar US$ 4.850 atau sekitar Rp 87,12 juta. Performa ekonomi kedua negara ini sukses melampaui batas minimal yang ditetapkan oleh Bank Dunia untuk kategori negara berpendapatan menengah atas, yakni sebesar US$ 4.636 atau berkisar Rp 82,28 juta.

Baca juga:  Bank Indonesia Buka Suara Soal Purbaya Ingin Meredenominasi Rupiah

Vietnam sendiri saat ini dikenal sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi tercepat di kawasan Asia. Menatap masa depan, Hanoi bahkan berani menargetkan pertumbuhan tahunan dua digit, yang disokong oleh implementasi serangkaian reformasi regulasi yang ramah bisnis serta gelontoran investasi besar-besaran pada sektor infrastruktur.

Tantangan Geopolitik dan Konsekuensi Fiskal

Kendati sama-sama naik kelas, Filipina diproyeksikan akan menghadapi jalan yang lebih terjal ke depan. Manila baru-baru ini terpaksa memangkas target pertumbuhan ekonominya untuk periode jangka menengah dari tahun 2026 hingga 2030. Langkah ini diambil akibat tekanan ketegangan geopolitik yang masih membara di Timur Tengah serta dampak buruk fenomena cuaca ekstrem El Nino yang intens.

Merespons dinamika tersebut dan pengumuman dari Bank Dunia, Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan, menegaskan komitmen pemerintahnya untuk tetap menjaga stabilitas pembangunan dalam negeri.

“Terlepas dari guncangan global dan domestik, kami tanpa henti mengejar pertumbuhan inklusif, memperkuat fundamental, dan tetap berada di jalur yang benar dengan agenda pembangunan kami,” tegas Arsenio Balisacan dalam pernyataan resminya.

Selain tantangan eksternal, konsekuensi logis dari perubahan status ini adalah pengetatan bantuan dana internasional. Sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas, baik Vietnam maupun Filipina secara bertahap akan menghadapi keterbatasan akses terhadap pendanaan pembangunan lunak. Selama ini, Filipina sangat bergantung pada pinjaman dengan suku bunga di bawah pasar untuk mendanai proyek infrastruktur, mitigasi dan pemulihan bencana, hingga program bantuan sosial.

Mengenai hal ini, Ruben Carlo Asuncion selaku Kepala Ekonom di Union Bank of the Philippines menjelaskan bahwa status baru ini menuntut tanggung jawab fiskal yang jauh lebih mandiri.

“Intinya, semakin tinggi peringkat Anda dalam klasifikasi tersebut, semakin mandiri Anda dan mampu memenuhi kebutuhan serta sumber daya Anda sendiri sebagai sebuah negara, termasuk dari segi fiskal,” terang Ruben Carlo Asuncion.

Baca juga:  Rekening Bisa ‘Terkuras’ Habis: Begini Cara Penipu Manfaatkan QRIS

Sebagai informasi tambahan, selain Vietnam dan Filipina, Bank Dunia juga menaikkan status ekonomi Yordania, Mikronesia, dan Sri Lanka ke dalam kelompok berpendapatan menengah atas. Di wilayah lain, Togo juga mengalami reklasifikasi, naik ke kategori pendapatan menengah ke bawah setelah sebelumnya berada di kelompok negara berpendapatan rendah.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement