Hadapi Ketidakpastian Global, Bima Arya Minta Mahasiswa Miliki Keahlian Internasional Berhati Nasionalis

kemendagri-1781604820393_169

Foto: dok. Kemendagri

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk aktif membangun mental aktivis, menguasai kompetensi global, serta memperkuat semangat nasionalisme. Tiga pilar tersebut dinilai menjadi bekal krusial bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan di era yang penuh disrupsi dan ketidakpastian.

Menurut Bima, generasi muda saat ini dituntut untuk terus belajar, memperluas wawasan, serta memiliki kemampuan membaca perubahan zaman secara cermat.

Pesan mendalam tersebut disampaikan Bima Arya saat hadir sebagai narasumber dalam Seminar Nasional bertema ‘Geopolitik Global dan Tantangan Generasi Muda Indonesia’. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) II Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang digelar di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Banten, Pandeglang, Senin (15/6).

Dalam forum tersebut, Bima memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif KAMMI. Ia menilai kegiatan semacam ini merupakan ruang dialog yang sangat penting bagi pengembangan kapasitas pemuda. Diskusi mahasiswa, lanjutnya, adalah bentuk investasi jangka panjang untuk melahirkan calon pemimpin masa depan yang berkarakter tangguh, berdaya juang tinggi, dan adaptif terhadap perubahan.

“Kalau istilah saya, kalian harus punya mental aktivis, keahlian global, dan hati nasionalis,” ujar Bima dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).

Konsep Generasi Kosmopolitan

Lebih jauh, Bima menguraikan pemikiran sosiolog Anthony Giddens mengenai konsep generasi kosmopolitan. Konsep ini merujuk pada generasi yang mampu memadukan identitas lokal, nasional, dan global secara seimbang. Karakter inilah yang dianggap vital agar pemuda Indonesia bisa berkiprah di panggung dunia tanpa mencabut akar kebangsaan dan kearifan lokal mereka.

“Di era global bisa cas, cis, cus punya networking. Di konteks nasional juga kokoh jiwa kebangsaannya. Tetapi punya akar lokal yang juga sangat kuat,” ucap Bima menjabarkan.

Baca juga:  Dicecar Jaksa soal Shadow Menteri, Nadiem: Saya Tidak Tahu

Guna memperkaya perspektif para mahasiswa, Bima merekomendasikan buku karya Michiko Kakutani yang berjudul The Great Wave: The Era of Radical Disruption and the Rise of the Outsider. Buku tersebut memotret realitas dunia hari ini yang semakin diwarnai oleh disrupsi radikal serta berbagai kejutan yang sulit diprediksi sebelumnya.

Bima menyoroti salah satu fenomena menarik dalam buku tersebut, yakni kemunculan figur-figur di luar arus utama (outsider) yang berhasil merombak lanskap politik, sosial, hingga ekonomi. Fenomena ini membuktikan bahwa perubahan besar kerap kali lahir dari situasi yang tidak terduga.

“Ini realitanya the rise of outsider. Pertanyaannya bukan siapa mengambil apa, jatah siapa, diambil siapa, bukan. Tapi lebih dalam dari itu, adalah mengapa ini terjadi? Apakah ada kejenuhan kepada mainstream? Apakah kemudian juga pemain-pemain lama ini kurang siaga? Itu menarik untuk menjadi bahan kontemplasi,” ungkap mantan Wali Kota Bogor tersebut.

Pemimpin Harus Biasa Berbeda

Menutup pemaparannya, Bima menegaskan bahwa dunia yang sedang memasuki era ketidakpastian menuntut calon pemimpin masa depan untuk jeli memahami keterkaitan antara dinamika global dan persoalan domestik. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi, berpikir terbuka (open-minded), serta memahami keberagaman merupakan modal utama kepemimpinan.

Ia meyakini bahwa pemimpin yang berkualitas adalah sosok yang ditempa oleh perbedaan serta sudah terbiasa berinteraksi dengan berbagai pandangan, latar belakang, maupun keyakinan yang berbeda.

“Biasa berbeda, enggak harus selalu homogen dan sama. Tapi sangat terbiasa dengan perbedaan pikiran, pendapat, ideologi, keyakinan, dan semuanya,” tandas Bima.

Sebagai informasi, agenda seminar nasional ini turut dihadiri langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) KAMMI, Ahmad Jundi Khalifatullah, beserta jajaran pengurus dan kader KAMMI dari berbagai daerah.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement
Baca juga:  Ngeri! Menteri PU Hingga Bupati Bisa Masuk Penjara Gara-gara Jalan Berlubang