Dilema Robotaxi Dan Akuisisi Delivery Hero: Di Balik Merosotnya Saham Uber Ke $68
UBER. Foto: Dok. Yahoo Finance
Newestindonesia.co.id, Pasar saham kerap kali menyajikan anomali di mana kinerja fundamental sebuah perusahaan tidak selaras dengan pergerakan harga sahamnya di papan perdagangan. Kondisi inilah yang sedang membayangi raksasa teknologi ride-hailing global, Uber Technologies, Inc. (NYSE: UBER) di pertengahan tahun 2026.
Pada penutupan perdagangan pekan lalu (12/6/2026), saham Uber berakhir di level USD 68,85 per lembar. Angka ini mendekati level terendah dalam 52 minggu terakhir, yaitu USD 67,19, serta mencerminkan koreksi tajam sekitar 32% dari level tertingginya yang sempat menyentuh USD 102.
Kondisi ini memicu perdebatan sengit di kalangan analis Wall Street. Di satu sisi, bisnis inti Uber terus mencetak pertumbuhan kas yang masif, namun di sisi lain, sentimen negatif pasar justru terus menekan valuasi perusahaan.
Kesenjangan Lebar Antara Kinerja Operasional dan Harga Saham
Secara fundamental, kinerja keuangan Uber sepanjang kuartal pertama (Q1) 2026 yang dilaporkan pada Mei lalu sebenarnya menunjukkan performa yang impresif. Total pemesanan bruto (gross bookings) tumbuh signifikan sebesar 25% secara tahunan (year-on-year) menjadi USD 53,7 miliar. Tidak hanya itu, laba operasi GAAP melonjak hingga 57% menjadi USD 1,9 miliar, sementara basis pengguna loyal melalui layanan Uber One berhasil menembus angka historis 50 juta anggota.
Namun, alih-alih melesat, saham Uber justru merosot pasca-rilis laporan keuangan tersebut. Penurunan ini didorong oleh aksi pelaku pasar yang melakukan kompresi terhadap estimasi pertumbuhan laba di masa depan (estimate compression), menurunkan proyeksi EPS normalisasi Uber untuk tahun 2026 menjadi sekitar USD 3,33.
Bantahan CFO Balaji Krishnamurthy Terhadap Kekhawatiran Pasar
Menanggapi tekanan jual yang masif, Chief Financial Officer (CFO) Uber yang baru, Balaji Krishnamurthy—yang resmi menjabat sejak Februari 2026—buka suara. Dalam forum investor Bernstein Annual Strategic Decisions Conference, Krishnamurthy secara tegas mendorong balik narasi pesimistis (bear case) dari para pelaku pasar.
“Aksi jual yang terjadi di pasar saat ini mencerminkan kesalahan dalam membaca fundamental bisnis kami. Uber saat ini adalah platform yang mampu menghasilkan arus kas bebas (free cash flow) mendekati USD 10 miliar per tahun dengan pertumbuhan pemesanan bruto di atas 21% selama tiga kuartal berturut-turut. Bisnis ini terus berkembang secara konsisten, meskipun valuasi pasar saat ini tidak mencerminkan realitas tersebut,” ujar CFO Uber, Balaji Krishnamurthy, dalam keterangannya kepada para investor di konferensi tersebut.
Faktor Penekan: Ancaman Kendaraan Otonom dan Efisiensi Modal
Meskipun CFO Uber optimis, para analis menilai ada dua ketidakpastian besar yang membuat investor bersikap defensif. Pertama adalah penetrasi kendaraan otonom (autonomous vehicles / AV) atau robotaxi. Kelompok investor bearish khawatir kehadiran armada robotaxi tanpa pengemudi di masa depan akan menekan take rate (persentase komisi) yang bisa diambil oleh Uber dari setiap perjalanan.
Faktor kedua adalah langkah agresif Uber dalam mengejar akuisisi bernilai miliaran dolar terhadap Delivery Hero. Pasar meragukan apakah ekspansi besar-besaran ini akan mengorbankan komitmen manajemen terhadap pengembalian modal yang disiplin, seperti program pembelian kembali saham (buyback).
Fokus ke Depan: Menanti Jawaban dari Laporan Keuangan Agustus
Ketidakpastian ini diperkirakan baru akan terjawab dalam tujuh minggu ke depan saat Uber merilis laporan keuangan Kuartal II pada awal Agustus 2026. Fokus utama pasar akan tertuju pada satu metrik krusial: apakah pertumbuhan gross bookings mampu menyentuh atau melewati target panduan manajemen di angka 18% hingga 22%.
Jika Uber berhasil mencetak angka di batas atas panduan tersebut dibarengi dengan ekspansi margin, hal itu akan mengonfirmasi bahwa penurunan saham saat ini murni akibat sentimen buruk, bukan pelemahan substansi bisnis. Namun sebaliknya, jika pertumbuhan melambat, maka kekhawatiran pasar terhadap besarnya pengeluaran untuk Delivery Hero akan terbukti valid. Untuk saat ini, Uber tetap menjadi perusahaan dengan pertumbuhan kuat yang dihargai layaknya perusahaan yang sedang bermasalah.
(DAW)