Serangan Israel Ke Lebanon Picu Kemarahan Iran, Diplomasi Dengan AS Dinilai Sia-sia
Foto: Mohammad Bagher Ghalibaf (AFP PHOTO /IRIBNEWS)
Newestindonesia.co.id, Pemerintah Iran melontarkan kecaman keras terhadap serangan terbaru Israel ke Lebanon. Teheran bahkan menilai upaya negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik menjadi tidak lagi memiliki arti setelah sekutu utama Washington tersebut kembali menggempur wilayah Beirut.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut agresi yang dilakukan Israel menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki kemampuan ataupun kemauan untuk menjalankan komitmennya.
Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf setelah Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah Dahieh di Beirut selatan pada Minggu (14/6).
“Agresi Zionis terhadap Dahieh menunjukkan bahwa AS tidak memiliki kemauan maupun kemampuan untuk memenuhi komitmennya, sehingga negosiasi tidak ada gunanya,” kata Mohammad Bagher Ghalibaf seperti dikutip AFP, dilansir detikNews.
Menurut Ghalibaf, serangan yang terus dilakukan Israel membuat proses diplomasi yang tengah berlangsung dengan Washington kehilangan makna.
Ia juga menegaskan Iran tidak hanya akan menghentikan perundingan dengan Amerika Serikat apabila serangan Israel terus berlanjut, tetapi juga akan mengambil langkah terhadap Israel.
Pernyataan keras dari Teheran muncul di tengah upaya sejumlah pihak untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Israel menghentikan serangan ke Lebanon.
Trump mengatakan peluang tercapainya perdamaian di Timur Tengah semakin dekat, khususnya terkait pembicaraan dengan Iran.
“Perdamaian di Timur Tengah sangat dekat,” kata Trump seperti dikutip detikNews.
Di sisi lain, militer Israel mengklaim serangan rudal yang dilakukan ke sejumlah titik di Beirut menargetkan basis Hizbullah. Israel juga menyatakan serangan tersebut menewaskan seorang tokoh senior kelompok tersebut.
Kondisi ini semakin memperumit upaya diplomasi yang sedang dijalankan antara Teheran dan Washington. Iran memandang tindakan Israel sebagai bukti bahwa Amerika Serikat tidak mampu mengendalikan sekutunya sendiri, sehingga komitmen yang disampaikan dalam meja perundingan dipertanyakan.
Ketegangan terbaru tersebut berpotensi menghambat proses perdamaian yang sebelumnya mulai menunjukkan perkembangan positif di kawasan Timur Tengah.
(DAW)