Korban Tewas Di Gaza Tembus 1.000 Jiwa Sejak Gencatan Senjata Israel-Hamas
Warga Palestina berjalan melewati reruntuhan bangunan tempat tinggal yang hancur akibat serangan Israel sementara para pengungsi berlindung di tenda-tenda, di Kota Gaza [Dawoud Abu Alkas/Reuters]
Newestindonesia.co.id, Jumlah korban tewas di Jalur Gaza sejak kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober tahun lalu kini telah melampaui angka 1.000 orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekerasan di wilayah Palestina itu masih terus berlangsung meskipun perjanjian penghentian pertempuran telah diberlakukan.
Data terbaru yang dikutip Al Jazeera menunjukkan lebih dari seribu warga Palestina kehilangan nyawa akibat serangan yang terus terjadi hampir setiap hari. Serangan udara, tembakan artileri, dan berbagai operasi militer lainnya masih berlangsung di sejumlah wilayah Gaza.
Serangan Masih Terjadi di Berbagai Wilayah Gaza
Meski gencatan senjata secara resmi telah disepakati, berbagai laporan menunjukkan bentrokan dan serangan militer belum benar-benar berhenti. Kota Gaza, Khan Younis, hingga sejumlah kamp pengungsi di wilayah tengah masih menjadi lokasi yang kerap terdampak operasi militer Israel.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa jumlah korban tewas secara keseluruhan sejak perang dimulai pada Oktober 2023 telah melampaui 73.000 jiwa. Angka tersebut terus bertambah seiring berlanjutnya aksi militer dan sulitnya akses bantuan kemanusiaan bagi warga sipil.
Kementerian Kesehatan Gaza Ungkap Data Korban
Menurut otoritas kesehatan Palestina di Gaza, lebih dari 1.000 warga telah meninggal dunia sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan.
“Lebih dari 1.000 orang telah terbunuh sejak kesepakatan gencatan senjata dicapai,” demikian laporan yang dikutip Al Jazeera, Kamis (18/6/2026).
Pihak Israel sendiri menyatakan bahwa operasi yang dilakukan menargetkan anggota Hamas dan kelompok bersenjata lainnya. Militer Israel mengatakan sejumlah serangan dilakukan terhadap individu yang disebut sebagai militan, meskipun tidak selalu memberikan rincian lebih lanjut mengenai identitas target.
Warga Sipil dan Pengungsi Tetap Menjadi Korban
Sebagian besar penduduk Gaza saat ini hidup dalam kondisi pengungsian. Banyak keluarga terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat setelah rumah mereka hancur akibat perang yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.
Wilayah Al-Mawasi di Khan Younis, yang sebelumnya ditetapkan sebagai zona aman bagi para pengungsi, juga beberapa kali dilaporkan terkena dampak serangan. Ratusan ribu warga sipil saat ini menggantungkan hidup pada bantuan kemanusiaan yang jumlahnya terbatas.
Saling Tuding Pelanggaran Gencatan Senjata
Baik Israel maupun Hamas sama-sama saling menuduh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Upaya berbagai pihak internasional untuk mempertahankan penghentian permusuhan sejauh ini belum mampu menghentikan kekerasan secara penuh.
Para mediator internasional, termasuk Amerika Serikat, Mesir, Qatar, dan Turki, masih terus berupaya mendorong tercapainya kesepakatan yang lebih permanen guna mengakhiri konflik berkepanjangan di Jalur Gaza.
Krisis Kemanusiaan Semakin Memburuk
Berlanjutnya serangan membuat situasi kemanusiaan di Gaza semakin memprihatinkan. Infrastruktur penting seperti rumah sakit, sekolah, dan fasilitas publik mengalami kerusakan berat. Sementara itu, jutaan warga menghadapi ancaman kekurangan makanan, air bersih, serta layanan kesehatan yang memadai.
Organisasi-organisasi kemanusiaan internasional terus menyerukan penghentian kekerasan dan mendesak agar akses bantuan bagi masyarakat sipil dapat dibuka secara lebih luas.
Upaya Perdamaian Masih Berjalan
Meski jumlah korban terus bertambah, upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik masih berlangsung. Berbagai negara dan organisasi internasional menyerukan agar kedua belah pihak kembali menghormati kesepakatan gencatan senjata dan mencari solusi politik jangka panjang.
Namun, dengan jumlah korban yang telah melampaui 1.000 orang sejak gencatan senjata diberlakukan, situasi di Gaza menunjukkan bahwa perdamaian yang diharapkan masih jauh dari tercapai.
(DAW)