Newestindonesia.co.id, Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan dunia internasional. Sekitar 8.000 jenazah warga Palestina diyakini masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan akibat perang berkepanjangan di wilayah tersebut. Lambatnya proses pembersihan puing membuat proses evakuasi diperkirakan membutuhkan waktu hingga tujuh tahun.
Laporan tersebut muncul setelah surat kabar Israel Haaretz mengutip pejabat anonim dari United Nations Development Programme (UNDP). Dalam laporan itu disebutkan bahwa hingga saat ini kurang dari satu persen puing di Gaza berhasil dibersihkan sejak konflik besar berlangsung selama dua tahun terakhir.
Dilansir Al Jazeera dan dikutip sejumlah media internasional, Senin 4 Mei 2026, keterbatasan alat berat, minimnya personel, serta sulitnya akses menuju area terdampak menjadi hambatan utama proses pencarian korban.
Pejabat UNDP yang dikutip Haaretz menyebut lambatnya penanganan puing menyebabkan ribuan keluarga Palestina masih menunggu kepastian nasib anggota keluarga mereka yang diyakini terkubur di bawah bangunan yang hancur akibat bombardir.
“Kurang dari satu persen puing telah dibersihkan,” demikian laporan yang dikutip dari pejabat tersebut. Kondisi itu membuat proses evakuasi dan pembersihan total diperkirakan memakan waktu sangat panjang.
Selain kesulitan teknis, kondisi keamanan di Gaza juga disebut masih belum stabil. Meski gencatan senjata telah diumumkan pada Oktober lalu, laporan dari otoritas Palestina menyebut serangan dan pelanggaran masih terus terjadi di sejumlah wilayah.
Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan sedikitnya 828 warga Palestina tewas dan lebih dari 2.300 orang terluka sejak masa gencatan senjata diberlakukan. Sementara itu, konflik selama dua tahun terakhir disebut telah menyebabkan lebih dari 72.000 korban jiwa dan menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil di Gaza.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperkirakan biaya rekonstruksi Jalur Gaza dapat mencapai 70 miliar dolar Amerika Serikat. Infrastruktur penting seperti rumah sakit, sekolah, jaringan listrik, dan permukiman warga mengalami kerusakan parah akibat perang berkepanjangan.
Di tengah kondisi tersebut, lembaga kemanusiaan internasional terus mendesak percepatan bantuan alat berat dan akses kemanusiaan agar proses pencarian korban dapat dilakukan lebih cepat. Banyak keluarga korban hingga kini belum dapat memakamkan anggota keluarganya secara layak karena jenazah masih tertimbun reruntuhan bangunan.
Konflik di Gaza sendiri masih menjadi perhatian dunia internasional karena dampak kemanusiaannya yang semakin memburuk dari waktu ke waktu. Selain korban jiwa, jutaan warga dilaporkan kehilangan tempat tinggal dan hidup di tengah keterbatasan pangan, air bersih, hingga layanan kesehatan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


