Newestindonesia.co.id, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik keras kepada Kanselir Jerman Friedrich Merz setelah pemimpin Jerman itu dianggap ikut campur dalam konflik Iran. Trump bahkan meminta Merz lebih fokus pada perang Rusia-Ukraina dibanding mengomentari kebijakan Washington di Timur Tengah.
Ketegangan terbaru ini menandai memanasnya hubungan diplomatik antara Washington dan Berlin di tengah konflik Iran yang terus berkembang dalam beberapa bulan terakhir. Perselisihan keduanya juga memperlihatkan perbedaan pandangan antara AS dan sejumlah negara Eropa terkait strategi menghadapi Teheran.
Trump meluapkan kekesalannya melalui media sosial Truth Social. Ia menilai komentar Merz soal perang Iran tidak tepat dan menunjukkan bahwa Kanselir Jerman tersebut tidak memahami situasi sebenarnya.
“Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan,” tulis Trump dalam unggahannya seperti dikutip Reuters, Jumat 1 Mei 2026.
Trump juga menegaskan bahwa langkah AS terhadap Iran dilakukan demi mencegah Teheran memiliki senjata nuklir yang menurutnya dapat mengancam keamanan global.
“Jika Iran memiliki senjata nuklir, seluruh dunia akan menjadi sandera,” lanjut Trump.
Tak berhenti di situ, Trump meminta Merz agar lebih fokus menangani persoalan di Eropa, khususnya konflik Rusia dan Ukraina yang hingga kini belum mereda.
Menurut Trump, Kanselir Jerman seharusnya memprioritaskan penyelesaian perang di Ukraina ketimbang ikut mengomentari strategi AS di Iran. Ia juga menyindir kondisi domestik Jerman, mulai dari ekonomi hingga isu energi dan migrasi.
Sebelumnya, Friedrich Merz melontarkan kritik terhadap kebijakan AS dalam perang Iran. Merz menilai Washington terlihat “dipermalukan” oleh Iran selama upaya diplomasi berlangsung dan mempertanyakan strategi keluar AS dari konflik tersebut.
Komentar Merz itu memicu respons keras dari Trump dan memperdalam ketegangan antara kedua sekutu NATO tersebut. Beberapa negara Eropa, termasuk Jerman, memang diketahui enggan terlibat langsung dalam operasi militer AS dan Israel terhadap Iran.
Meski demikian, Merz berusaha meredakan situasi. Ia menegaskan hubungan pribadinya dengan Trump tetap baik meskipun keduanya berbeda pandangan terkait Iran.
“Kami memiliki hubungan kerja yang baik,” kata Merz saat menanggapi polemik tersebut.
Merz juga menegaskan bahwa Jerman sejak awal menolak perang karena khawatir terhadap dampak ekonomi global, terutama gangguan pasokan energi akibat situasi di Selat Hormuz.
Perselisihan Trump dan Merz terjadi di tengah meningkatnya tekanan geopolitik dunia. Selain konflik Iran, perang Rusia-Ukraina masih menjadi perhatian utama negara-negara Barat dan NATO. Hubungan AS dengan sekutu Eropa juga dinilai semakin sensitif menjelang sejumlah agenda keamanan internasional tahun ini.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


