Hakim AS Tolak Gugatan xAI Terhadap OpenAI, Sebut Klaim Elon Musk ‘Sia-sia’
BEVERLY HILLS, CALIFORNIA - 6 Mei: Elon Musk, salah satu pendiri Tesla dan SpaceX serta pemilik X Holdings Corp., berbicara di Konferensi Global Milken Institute di Hotel Beverly Hilton, pada 6 Mei 2024 di Beverly Hills, California. Konferensi global tahunan ke-27 ini mengeksplorasi berbagai topik, mulai dari kebangkitan AI generatif hingga tren kendaraan listrik dan menampilkan peserta, bintang sepak bola David Beckham dan aktor Ashton Kutcher. (Foto oleh Apu Gomes/Getty Images)
Newestindonesia.co.id, Elon Musk kembali menelan kekalahan dalam perang hukum terbukanya melawan OpenAI. Seorang hakim federal di San Francisco secara resmi menggugurkan gugatan yang diajukan oleh perusahaan kecerdasan buatan milik Musk, xAI, yang menuduh rivalnya tersebut telah mencuri rahasia dagang terkait teknologi chatbot Grok.
Hakim Distrik AS Rita Lin memutuskan bahwa xAI gagal membuktikan bahwa OpenAI menghasut mantan insinyur senior xAI, Xuechen Li, untuk membocorkan informasi konfidensial selama proses rekrutmen. Hakim Lin menolak gugatan tersebut with prejudice—yang berarti kasus ini ditutup secara permanen dan tidak dapat diajukan kembali oleh pihak Musk karena langkah hukum lanjutan dinilai akan “sia-sia”.
Kekalahan ini menandai pukulan hukum kedua bagi miliarder tersebut dalam waktu kurang dari satu bulan. Sebelumnya, juri federal juga menolak gugatan terpisah Musk senilai $150 miliar yang menuduh Sam Altman dan OpenAI mengkhianati misi nirlaba awal mereka demi mengejar keuntungan komersial.
Pembahasan Pengalaman Kerja Dinilai Rutin
Perseteruan hukum yang dimulai sejak September lalu ini awalnya berfokus pada tuduhan perpindahan kode sumber (source code) oleh karyawan xAI yang membelot ke OpenAI. Setelah versi awal ditolak pada Februari, xAI mempersempit gugatannya pada presentasi yang diberikan Xuechen Li saat diwawancarai oleh OpenAI.
Pihak Musk mengklaim OpenAI sangat menginginkan rahasia pengembangan model “Grok 4” untuk mengejar ketertinggalan penalaran kompleks ChatGPT. Namun, Hakim Lin menepis argumen tersebut dan menyatakan bahwa mendiskusikan rekam jejak kerja dengan calon karyawan adalah praktik industri yang lumrah.
“Menetapkan hal sebaliknya berpotensi mengekspos pemberi kerja pada risiko tuntutan hukum setiap kali mereka menanyakan tentang pekerjaan masa lalu seorang kandidat,” tulis Hakim Rita Lin dalam berkas putusannya seperti dikutip melalui Yahoo Finance.
Reaksi OpenAI dan Dampak Pasar
Merespons putusan tersebut, tim hukum OpenAI menegaskan bahwa tuntutan yang dilayangkan Musk tidak memiliki dasar yang kuat dan murni bermotivasi persaingan personal.
“Gugatan tak berdasar ini tidak lebih dari sekadar bagian dari kampanye pelecehan yang terus-menerus dilakukan oleh Tn. Musk,” ungkap perwakilan OpenAI dalam pernyataan resminya.
Pihak OpenAI juga menambahkan dalam berkas pengadilan bahwa mereka tidak membutuhkan rahasia dagang dari xAI, yang mereka sebut sedang “mengalami pendarahan talenta” di pasar. Sementara itu, pihak pengacara xAI belum memberikan komentar resmi pasca-putusan ini dijatuhkan.
Kemenangan hukum beruntun ini menjadi angin segar bagi OpenAI yang tengah mempersiapkan dokumen penawaran saham perdana (IPO) di Wall Street, di tengah pengawasan ketat dari beberapa jaksa agung negara bagian terkait isu keamanan pengguna. Di sisi lain, meski kalah di pengadilan, kekayaan personal Elon Musk baru saja melonjak tajam setelah SpaceX sukses melangsungkan IPO terbesar dalam sejarah baru-baru ini.
(DAW)