Newestindonesia.co.id, Di tengah memanasnya konflik kawasan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, Suriah justru mencoba memosisikan diri sebagai jalur aman baru bagi perdagangan dan mobilitas regional. Negara yang selama lebih dari satu dekade dilanda perang saudara itu kini menawarkan diri sebagai koridor strategis penghubung Teluk dan Eropa.
Laporan terbaru Associated Press 1 Mei 2026, menyebut pemerintah baru Suriah berupaya memanfaatkan situasi geopolitik setelah konflik regional meluas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Presiden sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa, menggambarkan negaranya sebagai “arteri aman” yang dapat menghubungkan Asia dan kawasan Teluk menuju Eropa. Sikap netral yang diambil Damaskus dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat Suriah relatif terhindar dari eskalasi besar perang regional.
Pemerintah Suriah juga disebut berusaha menghidupkan kembali jalur perdagangan dan ekspor energi melalui pelabuhan Baniyas serta perbatasan yang kembali dibuka dengan Irak. Langkah ini muncul ketika Selat Hormuz mengalami gangguan akibat ketegangan Iran dengan negara-negara Barat.
Sejumlah warga Suriah yang lama tinggal di luar negeri mulai kembali melintasi negaranya. Associated Press menuliskan bahwa banyak pelancong kini melihat Suriah lebih stabil dibanding beberapa titik konflik lain di Timur Tengah saat ini.
Meski demikian, kondisi keamanan Suriah belum sepenuhnya pulih. Ancaman serangan rudal dan ketegangan antar kelompok bersenjata masih membayangi sejumlah wilayah. Namun pemerintah Damaskus mencoba menjaga jarak dari konflik langsung antara Iran dan Israel agar tidak kembali terseret ke pusaran perang kawasan.
Situasi geopolitik Timur Tengah sendiri terus berubah cepat sejak perang antara Iran dan Israel meluas dengan keterlibatan militer Amerika Serikat. Konflik itu memicu serangan balasan Iran terhadap sejumlah target regional dan mengganggu jalur energi global.
Associated Press melaporkan bahwa penutupan dan gangguan di Selat Hormuz telah menimbulkan kekhawatiran terhadap distribusi minyak dunia dan memperburuk ketidakstabilan ekonomi kawasan.
Di sisi lain, penarikan sebagian pasukan Amerika Serikat dari Suriah sebelum konflik regional membesar dinilai ikut mengurangi risiko negara itu menjadi sasaran langsung serangan balasan Iran. Kebijakan tersebut memberi ruang bagi Damaskus untuk membangun citra baru sebagai negara transit dan pusat logistik regional.
Namun para analis memperingatkan bahwa peluang ekonomi Suriah masih dibayangi tantangan besar. Infrastruktur negara itu rusak berat akibat perang panjang, sementara investor asing masih berhati-hati menanamkan modal karena ketidakpastian politik dan keamanan.
Konflik Iran-Israel yang terus berlangsung juga membuat negara-negara Teluk lebih fokus menjaga stabilitas domestik mereka dibanding mempercepat investasi regional baru di Suriah.
Meski demikian, pemerintah Suriah tampaknya melihat momentum ini sebagai kesempatan langka untuk mengubah citra negara dari kawasan perang menjadi jalur strategis perdagangan Timur Tengah.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


