Newestindonesia.co.id, Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kini mulai berdampak pada hubungan Washington dengan sekutu-sekutunya di Eropa. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan berencana menarik sekitar 5.000 pasukan AS dari Jerman, memicu reaksi cepat dari Berlin yang langsung mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Langkah Trump tersebut disebut berkaitan dengan meningkatnya frustrasi Washington terhadap negara-negara Eropa yang dinilai kurang mendukung kebijakan AS dalam konflik Iran. Dalam laporan Bloomberg, Trump bahkan mengisyaratkan pengurangan pasukan yang lebih besar dari angka 5.000 personel.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul kemudian menyampaikan sikap resmi negaranya melalui media sosial X. Ia menegaskan Jerman memiliki tujuan yang sama dengan AS terkait Iran.
“Sebagai sekutu dekat AS, kami memiliki tujuan yang sama: Iran harus sepenuhnya dan secara terverifikasi meninggalkan senjata nuklir dan segera membuka Selat Hormuz seperti yang juga dituntut oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio,” tulis Wadephul dikutip AFP melalui detikNews, Senin 4 Mei 2026.
Pernyataan itu menjadi sinyal perubahan sikap Berlin setelah sebelumnya Kanselir Jerman Friedrich Merz sempat mengkritik strategi Washington dalam konflik dengan Iran. Merz kala itu menilai AS sedang “dipermalukan” oleh kepemimpinan Iran dan menyebut Washington kehilangan arah strategi di kawasan Timur Tengah.
Trump Tekan Sekutu NATO
Ancaman penarikan pasukan AS dari Jerman menambah ketegangan di internal NATO. Trump selama beberapa waktu terakhir memang terus menekan negara-negara Eropa agar memberikan dukungan lebih besar terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Menurut laporan Bloomberg, Trump mengaku kecewa karena negara-negara Eropa dianggap tidak membantu Washington dalam menghadapi Iran dan upaya membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.
“Kami akan mengurangi secara drastis,” kata Trump kepada wartawan saat berada di Florida. “Dan kami akan mengurangi jauh lebih banyak dari 5.000.”
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan negara anggota NATO. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk bahkan memperingatkan bahwa aliansi trans-Atlantik berada dalam risiko perpecahan jika tren tersebut terus berlanjut.
Selat Hormuz Jadi Pusat Krisis
Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik AS-Iran. Jalur laut tersebut merupakan rute utama distribusi minyak dunia sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada harga energi global.
Trump sebelumnya mengumumkan bahwa AS akan membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz mulai Senin pagi waktu setempat. Washington juga menjamin keamanan pelayaran di kawasan itu.
Di sisi lain, Iran disebut sempat menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat AS menghentikan blokade terhadap Teheran. Namun proposal tersebut ditolak Washington.
Trump bahkan menyatakan proposal terbaru Iran “tidak dapat diterima”.
Sementara itu, pemerintah Iran memperingatkan bahwa babak baru perang dengan Amerika Serikat akan menjadi “bencana” bagi Washington. Penasihat senior Iran Mohsen Rezaei menyebut agresi baru terhadap Iran dapat memicu penahanan besar-besaran terhadap pasukan AS di kawasan Timur Tengah.
Dampak Global Mulai Terasa
Konflik yang terus memanas mulai berdampak terhadap ekonomi global, terutama sektor energi. Harga minyak dunia mengalami lonjakan dan sejumlah negara mulai mengantisipasi potensi krisis pasokan energi.
Di Indonesia, pemerintah disebut terus berupaya menjaga stabilitas harga BBM subsidi di tengah gejolak Timur Tengah. Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia aktif menjalin komunikasi dengan negara-negara produsen minyak untuk memastikan pasokan tetap aman.
Situasi di Selat Hormuz sendiri diperkirakan masih akan menjadi fokus utama diplomasi internasional dalam beberapa pekan mendatang, terutama setelah Jerman mulai secara terbuka menyelaraskan sikapnya dengan Washington terhadap Iran.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


