Newestindonesia.co.id, Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (4/5/2026). Kurs rupiah di pasar spot bahkan menyentuh level terlemah baru sepanjang sejarah dengan mendekati Rp 17.400 per dolar AS.
Berdasarkan data pasar yang dikutip melalui Kontan, 4 Mei 2026, rupiah spot melemah Rp 57 atau sekitar 0,33% menjadi Rp 17.394 per dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya. Posisi ini menjadi level terendah baru rupiah di pasar spot.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan pergerakan yang sedikit lebih baik. Pada hari yang sama, kurs rupiah Jisdor justru tercatat menguat Rp 10 atau sekitar 0,06% menjadi Rp 17.368 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan global yang masih kuat terhadap mata uang negara berkembang di kawasan Asia. Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip Kontan, mayoritas mata uang Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Pada perdagangan pagi, rupiah berada di level Rp 17.340 per dolar AS atau melemah 0,20% dibanding posisi sebelumnya di Rp 17.305 per dolar AS. Yen Jepang turun tipis ke level 157,11 per dolar AS, sementara baht Thailand melemah ke posisi 32,51 per dolar AS.
Selain itu, peso Filipina turut terkoreksi ke level 61,397 per dolar AS. Namun beberapa mata uang Asia lainnya masih mampu menguat terbatas, seperti won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan dolar Taiwan.
Tekanan terhadap rupiah terjadi meskipun Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan yang cukup tinggi. Surplus perdagangan Indonesia pada Maret 2026 mencapai US$ 3,32 miliar, menjadi surplus tertinggi dalam enam bulan terakhir. Namun sentimen positif tersebut belum cukup kuat untuk menopang pergerakan rupiah di pasar keuangan.
Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed), penguatan dolar AS global, hingga kenaikan harga minyak mentah dunia.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan lonjakan harga minyak mentah global menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Menurutnya, kebutuhan impor minyak Indonesia yang masih tinggi membuat permintaan dolar AS meningkat.
Ia menjelaskan kebutuhan minyak mentah Indonesia mencapai sekitar 2,1 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Kondisi itu membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak setiap hari.
Selain faktor energi, pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga tinggi. Situasi tersebut membuat arus modal asing cenderung keluar dari negara berkembang dan kembali masuk ke aset berbasis dolar AS.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga terlihat dari menurunnya minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Porsi kepemilikan asing di SBN dilaporkan turun ke level 12,75% seiring kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah dan ketidakpastian global.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan tingginya volatilitas pasar global.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


