Newestindonesia.co.id, Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan operasi mematikan terhadap kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba di kawasan Samudra Pasifik Timur. Serangan terbaru tersebut menewaskan sedikitnya dua orang yang oleh Washington disebut sebagai “teroris narkoba”.
Operasi itu diumumkan oleh Komando Selatan Amerika Serikat atau SOUTHCOM pada Jumat (8/5) waktu setempat. Dalam operasi tersebut, satu orang lainnya dilaporkan selamat dari serangan.
Menurut pernyataan resmi SOUTHCOM, operasi dilakukan oleh Satuan Tugas Gabungan Southern Spear atas perintah Komandan SOUTHCOM, Jenderal Francis L. Donovan.
“Setelah serangan tersebut, US SOUTHCOM segera memberi tahu Penjaga Pantai AS untuk mengaktifkan sistem pencarian dan penyelamatan untuk korban selamat,” demikian pernyataan SOUTHCOM, dikutip AFP melalui detikNews, Sabtu (9/5/2026).
Militer AS menyebut kapal tersebut beroperasi di jalur perdagangan narkoba yang dikenal aktif di kawasan Pasifik Timur. Video hitam-putih yang dirilis SOUTHCOM memperlihatkan sebuah kapal kecil melaju di tengah lautan sebelum dihantam proyektil dan meledak hebat.
Serangan terbaru ini menambah panjang daftar operasi militer AS terhadap kapal-kapal yang diduga terkait jaringan narkoba internasional. Berdasarkan penghitungan AFP, total korban tewas dalam operasi serupa kini mencapai sedikitnya 189 orang.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump diketahui meningkatkan operasi militer di Laut Karibia dan Samudra Pasifik Timur sejak September tahun lalu dengan alasan memerangi perdagangan narkoba lintas negara.
Washington berulang kali menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari perang melawan “narko-teroris” yang beroperasi di kawasan Amerika Latin. Namun, langkah tersebut menuai kontroversi karena pemerintah AS dinilai belum memberikan bukti kuat bahwa kapal-kapal yang menjadi target benar-benar terlibat dalam aktivitas penyelundupan narkoba.
Sejumlah pakar hukum internasional dan kelompok hak asasi manusia menilai operasi semacam itu berpotensi melanggar hukum internasional. Mereka menyoroti tidak adanya proses hukum terhadap para target sebelum operasi militer dilakukan.
Sebelumnya, beberapa serangan serupa juga terjadi di kawasan Pasifik Timur dan Laut Karibia. Dalam salah satu operasi pada April lalu, militer AS menyerang dua kapal kecil yang diduga digunakan jaringan penyelundup narkoba dan menewaskan lima orang.
Di sisi lain, pemerintah AS tetap menegaskan operasi tersebut diperlukan untuk memutus jalur perdagangan narkotika menuju Amerika Utara. Kawasan Pasifik Timur selama ini memang dikenal sebagai salah satu rute utama pengiriman narkoba internasional yang digunakan kartel Amerika Latin.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


