Newestindonesia.co.id, Suasana liburan mewah di kapal pesiar MV Hondius berubah menjadi penuh ketakutan setelah wabah hantavirus merebak di tengah pelayaran. Sejumlah penumpang mengaku mengalami tekanan psikologis akibat ketidakpastian situasi, sementara tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Kapal pesiar berbendera Belanda itu membawa sekitar 150 penumpang dari 23 negara saat berlayar di Samudra Atlantik setelah bertolak dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Namun perjalanan yang awalnya menawarkan pengalaman eksplorasi alam berubah menjadi krisis kesehatan internasional.
Salah satu penumpang asal Amerika Serikat, Jake Rosmarin, mengungkap kondisi emosional yang dialami para penumpang di atas kapal. Dalam pernyataannya kepada BBC, Rosmarin mengatakan para penumpang kini hidup dalam kecemasan dan ketidakjelasan.
“Kami bukan sekadar cerita. Kami bukan hanya judul berita, kami adalah manusia dengan keluarga, dengan kehidupan, dengan orang-orang yang menunggu kami di rumah,” ujar Rosmarin sambil menangis dikutip BBC Indonesia melalui detikNews.
Rosmarin mengatakan ketidakpastian menjadi bagian paling berat selama mereka berada di laut. Para penumpang hanya berharap mendapat kepastian mengenai evakuasi dan kondisi kesehatan mereka.
“Ada banyak ketidakpastian dan itu adalah bagian tersulit. Yang kami inginkan sekarang hanyalah merasa aman, mendapatkan kejelasan, dan pulang,” katanya.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga kini terdapat beberapa kasus hantavirus yang teridentifikasi di kapal tersebut. Sebagian telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, sementara lainnya masih berstatus dugaan kasus. WHO juga menyebut kemungkinan penularan antarmanusia terjadi di atas kapal.
Kasus pertama disebut dialami seorang pria berusia 70 tahun yang meninggal di atas kapal setelah menunjukkan gejala penyakit. Jenazahnya kemudian dibawa ke Pulau Saint Helena. Istrinya yang berusia 69 tahun jatuh sakit dan dievakuasi ke Johannesburg, Afrika Selatan, namun meninggal dunia di rumah sakit. Korban ketiga adalah pria asal Inggris berusia 69 tahun yang juga sempat dievakuasi.
Di tengah kepanikan tersebut, sebagian penumpang berusaha tetap tenang. Penumpang lain bernama Kasem Hato menilai situasi di kapal masih terkendali meski perhatian dunia internasional tertuju pada MV Hondius.
“Seluruh situasi ini telah dibesar-besarkan,” tulis Hato di media sosial. Ia menambahkan bahwa sebagian besar penumpang tetap tenang dan hanya berharap para pasien segera pulih.
Hato mengatakan aktivitas di kapal masih berlangsung terbatas. Para penumpang mengisi waktu dengan membaca buku, menonton film, hingga menikmati minuman hangat sambil menunggu keputusan otoritas kesehatan internasional.
Sementara itu, operator kapal Oceanwide Expeditions memastikan kondisi di kapal tetap terkendali. Perusahaan menyatakan pihaknya terus bekerja sama dengan otoritas kesehatan untuk mempercepat proses pemeriksaan medis dan evakuasi penumpang.
“Suasana tetap tenang, dengan para penumpang umumnya bersikap tenang,” kata Oceanwide Expeditions dalam pernyataan resminya.
Pihak kapal juga menerapkan protokol kesehatan tambahan seperti menjaga jarak sosial, penggunaan masker di area tertutup, dan peningkatan kebersihan tangan guna mencegah penyebaran lebih lanjut.
WHO sebelumnya mengungkapkan bahwa strain virus yang diduga terlibat adalah Andes virus, salah satu jenis hantavirus langka yang diketahui dapat menular antarmanusia dalam kontak dekat. Meski demikian, WHO menilai risiko penyebaran luas masih relatif rendah.
Pemerintah Spanyol akhirnya mengizinkan MV Hondius menuju Kepulauan Canary untuk proses penanganan lebih lanjut. Namun keputusan tersebut sempat memicu kekhawatiran warga lokal yang takut wabah menyebar ke daratan.
Di balik drama wabah tersebut, banyak penumpang mengaku perjalanan impian mereka kini berubah menjadi pengalaman traumatis yang tidak akan terlupakan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


