Newestindonesia.co.id, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan. Kondisi tersebut tercermin dari kurs jual dolar AS di sejumlah bank besar nasional yang kini berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS. Bahkan, kurs jual dolar di Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah mendekati level psikologis Rp18.000.
Berdasarkan data kurs perbankan pada Selasa (2/6/2026) se, kurs jual dolar AS tertinggi tercatat di BRI melalui layanan e-Rate yang mencapai Rp17.990 per dolar AS. Sementara itu, kurs beli berada di level Rp17.788 per dolar AS.
Di Bank Central Asia (BCA), kurs e-Rate menunjukkan dolar AS dibeli pada level Rp17.800 dan dijual Rp17.900 per dolar AS. Untuk transaksi TT Counter dan Bank Notes, kurs beli berada di Rp17.690 dan kurs jual Rp17.940.
Sementara itu, Bank Negara Indonesia (BNI) menetapkan kurs beli dolar AS melalui layanan Special Rates sebesar Rp17.795 dan kurs jual Rp17.895. Pada layanan TT Counter dan Bank Notes, kurs beli tercatat Rp17.625.
Adapun Bank Mandiri menetapkan kurs beli dolar AS pada level Rp17.795 dan kurs jual Rp17.835 melalui layanan Special Rate. Untuk transaksi TT Counter dan Bank Notes, kurs beli berada di Rp17.625 dan kurs jual Rp17.925.
Rincian Kurs Dolar AS di Empat Bank Besar
1. BCA (e-Rate)
- Kurs beli: Rp17.800
- Kurs jual: Rp17.900
TT Counter dan Bank Notes
- Kurs beli: Rp17.690
- Kurs jual: Rp17.940
2. BNI (Special Rates)
- Kurs beli: Rp17.795
- Kurs jual: Rp17.895
TT Counter dan Bank Notes
- Kurs beli: Rp17.625
- Kurs jual: Rp16.925
3. BRI (e-Rate)
- Kurs beli: Rp17.788
- Kurs jual: Rp17.990
TT Counter
- Kurs beli: Rp17.740
- Kurs jual: Rp18.040
4. Bank Mandiri (Special Rate)
- Kurs beli: Rp17.795
- Kurs jual: Rp17.835
TT Counter dan Bank Notes
- Kurs beli: Rp17.625
- Kurs jual: Rp17.925.
Pemerintah Optimistis Tekanan Rupiah Akan Mereda
Di tengah pelemahan rupiah yang terus berlangsung, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda akan berangsur berkurang dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut Purbaya, perkembangan geopolitik global yang mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan dapat menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia. Ia menilai hubungan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel yang mengarah pada situasi lebih kondusif berpotensi memperbaiki stabilitas ekonomi global.
Purbaya mengatakan, “Kalau melihat berbagai pemberitaan internasional, ada indikasi bahwa Amerika Serikat, Iran, dan Israel hampir mencapai kesepakatan. Dengan kondisi keamanan dan situasi global yang diperkirakan membaik dalam dua hingga tiga bulan ke depan, pelemahan rupiah juga diperkirakan akan berakhir.”
Ia menambahkan bahwa membaiknya kondisi global diyakini mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik dan mendukung penguatan fundamental ekonomi nasional.
Koordinasi Intensif dengan Bank Indonesia
Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas sektor keuangan nasional. Langkah tersebut dilakukan agar pasar obligasi tetap kondusif dan investor, khususnya investor asing, tidak mengalami kerugian yang terlalu besar akibat gejolak pasar.
Purbaya menegaskan, “Kami terus berkoordinasi secara intensif dengan bank sentral untuk memastikan kondisi sektor keuangan tetap kuat dan stabil. Salah satu tujuannya adalah agar investor asing yang memiliki obligasi domestik tidak mengalami capital loss yang terlalu dalam akibat gejolak pasar.”
Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa kepercayaan pasar terhadap rupiah akan kembali pulih seiring membaiknya prospek ekonomi global serta terjaganya stabilitas sistem keuangan nasional.
“Saya percaya pada akhirnya kita dapat mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah sehingga nilai tukar dapat bergerak lebih stabil ke depan,” pungkasnya.
Di sisi lain, sejumlah analis dan pelaku pasar terus mencermati pergerakan rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir sempat mendekati level Rp17.900 per dolar AS. Beberapa lembaga keuangan bahkan mencatat kurs jual dolar yang semakin mendekati Rp18.000 di tengah penguatan mata uang AS dan ketidakpastian ekonomi global.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


