Newestindonesia.co.id, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan permintaan maaf kepada para investor dan manajer investasi global saat melakukan pertemuan di Singapura. Permintaan maaf itu disampaikan menyusul kondisi pasar keuangan Indonesia yang mengalami tekanan akibat sentimen geopolitik global dan lonjakan harga minyak dunia.
Dalam pertemuan tersebut, Luhut mengakui situasi ekonomi global saat ini menimbulkan dampak terhadap pasar keuangan nasional, termasuk memengaruhi persepsi investor internasional terhadap Indonesia.
“Mengingat kita memiliki beberapa masalah di sini dan di sana, dan saya minta maaf juga, mungkin beberapa dari Anda memiliki dampak negatif karena situasi ini,” kata Luhut dalam pertemuan bersama investor global di Singapura.
Meski demikian, Luhut menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat dibandingkan sejumlah negara lain di tengah ketidakpastian global saat ini. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi nasional masih mampu bertahan di level 5,61 persen.
Selain itu, pemerintah juga mengklaim tingkat inflasi masih terkendali di kisaran 2,4 persen. Menurut Luhut, capaian tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi domestik masih cukup baik meskipun tekanan eksternal terus meningkat.
“Tapi saya juga bisa memberitahu Anda, inflasi kita masih bisa dikelola dengan baik, kira-kira di 2,4 persen. Kita berusaha untuk tidak menurun,” ujarnya.
Luhut menjelaskan pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak mentah dunia yang mengalami kenaikan tajam akibat memanasnya situasi geopolitik internasional. Menurut dia, kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap harga barang dan daya beli masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.
Ia mengungkapkan telah melaporkan simulasi dampak kenaikan harga minyak kepada Presiden Prabowo Subianto. Simulasi tersebut mencakup kemungkinan harga minyak dunia menembus level US$100 per barel serta dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Luhut, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional apabila tekanan global terus berlanjut hingga semester kedua tahun ini. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pemberian stimulus ekonomi guna menjaga konsumsi masyarakat.
“Tapi saya juga ingatkan kepada Presiden, kita harus melihat dengan jelas setelah Juli. Jadi, kita juga harus mempersiapkan stimulus untuk menjaga ekonomi kita,” kata Luhut.
Ia menambahkan dampak kenaikan harga minyak terhadap harga kebutuhan masyarakat diperkirakan mulai terasa dalam waktu dekat apabila kondisi geopolitik dunia belum menunjukkan perbaikan.
“Karena kita mengerti dampak harga minyak pada ekonomi kita, pada barang, saya pikir akan terasa mulai bulan ini atau mungkin awal bulan berikutnya,” ujarnya.
Sebelumnya, Luhut juga sempat bertemu jajaran Otoritas Jasa Keuangan atau OJK untuk membahas dinamika pasar keuangan dan persepsi investor global terhadap Indonesia. Dalam pertemuan itu, ia mengakui sebagian investor internasional masih bersikap wait and see terhadap konsistensi kebijakan pemerintah.
Menurut Luhut, kepercayaan investor hanya dapat dibangun melalui kebijakan yang stabil dan kepastian hukum jangka panjang.
“Karena pasar modal itu kuncinya hanya satu: trust. Dan kepercayaan itu dibuktikan dengan kebijakan yang stabil dan punya kepastian hukum dalam jangka panjang,” ujar Luhut.
Di sisi lain, pemerintah memastikan akan terus menjaga stabilitas fiskal dan sistem keuangan nasional di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga optimisme investor terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


