Newestindonesia.co.id, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah menggelontorkan dana hingga Rp2 triliun per hari untuk membantu Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tengah berada dalam tekanan besar terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Langkah tersebut dilakukan di tengah pelemahan rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir menyentuh level terlemah sepanjang sejarah. Pemerintah bersama BI kini bergerak cepat melakukan intervensi di pasar obligasi guna menahan tekanan lanjutan terhadap mata uang Garuda.
Purbaya mengatakan dana tersebut dikucurkan setiap hari untuk menjaga stabilitas pasar dan mengurangi gejolak yang dapat memicu kepanikan investor asing.
“Kurang lebih Rp2 triliun sehari,” ujar Purbaya terkait besaran dana yang dikucurkan pemerintah untuk membantu menjaga rupiah seperti dikutip melalui CNBC Indonesia, Rabu (20/05/2026).
Menurutnya, intervensi pemerintah dilakukan melalui pasar obligasi negara dengan memanfaatkan Bond Stabilization Fund (BSF). Skema ini digunakan agar yield obligasi pemerintah tidak melonjak terlalu tinggi di tengah tekanan global dan arus keluar modal asing.
Sebelumnya, Purbaya telah memberi sinyal pemerintah akan ikut membantu BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ia menyebut pemerintah masih memiliki dana yang cukup untuk dioptimalkan dalam menjaga pasar keuangan domestik.
“Kita coba membantu nilai tukar, kita membantu Bank Indonesia sedikit-sedikit kalau bisa,” kata Purbaya beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan intervensi dilakukan terutama melalui pasar surat utang negara agar investor asing tidak mengalami capital loss besar akibat kenaikan yield obligasi.
“Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar,” ujar Purbaya.
Langkah agresif pemerintah tersebut dilakukan setelah rupiah terus mengalami tekanan berat terhadap dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, mata uang Indonesia bahkan sempat menyentuh level Rp17.528 per dolar AS dan disebut menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah.
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari ketidakpastian geopolitik, penguatan dolar AS, hingga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar keuangan emerging market.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Fithra Faisal, bahkan menyebut tanpa intervensi pemerintah dan BI, nilai tukar rupiah berpotensi menembus Rp18.000 per dolar AS.
“Jika tanpa intervensi, rupiah sudah Rp18 ribu per dolar AS,” kata Fithra.
Meski demikian, Purbaya memastikan kondisi ekonomi Indonesia masih dalam keadaan baik dan pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Purbaya mengatakan kondisi ekonomi nasional masih relatif aman meskipun tekanan eksternal meningkat.
“Bagus, enggak ada masalah,” ujar Purbaya saat menjawab pertanyaan mengenai kondisi ekonomi Indonesia terkini.
Purbaya juga menyampaikan pemerintah akan segera memaparkan kondisi terbaru Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menyebut kondisi fiskal saat ini bahkan berada di luar perkiraan banyak pengamat ekonomi.
Di sisi lain, Bank Indonesia juga terus melakukan berbagai langkah stabilisasi di pasar valuta asing dan obligasi untuk menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Pengamat menilai koordinasi antara pemerintah dan BI menjadi kunci utama untuk meredam volatilitas rupiah di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
Dengan kombinasi intervensi fiskal dan moneter, pemerintah berharap tekanan terhadap rupiah dapat mereda sehingga stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga hingga semester kedua 2026.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


