Newestindonesia.co.id, Komunitas Muslim di Amerika Serikat berupaya mengubah rasa duka menjadi gerakan kolektif melawan kebencian setelah penembakan mematikan di Islamic Center of San Diego, California, yang menewaskan tiga orang pekan lalu. Dalam pertemuan tahunan Islamic Circle of North America (ICNA), para tokoh Muslim menyerukan solidaritas, advokasi politik, dan perlindungan lebih kuat terhadap komunitas Muslim di AS.
Dilansir melalui Al Jazeera, Senin (25 Mei 2026), Peristiwa penembakan yang kini diselidiki sebagai kejahatan bermotif kebencian itu mengguncang komunitas Muslim Amerika. Tiga korban yang tewas diidentifikasi sebagai Amin Abdullah, petugas keamanan masjid, Mansour Kaziha, dan Nader Awad. Ketiganya disebut sebagai sosok yang berupaya melindungi jamaah saat serangan terjadi.
Menurut laporan otoritas AS, dua remaja pelaku diduga terpapar ideologi supremasi kulit putih dan kebencian anti-Muslim melalui internet. Mereka kemudian melakukan serangan bersenjata sebelum akhirnya ditemukan tewas akibat bunuh diri.
Dalam konferensi ICNA yang dihadiri lebih dari 25 ribu Muslim dari berbagai wilayah Amerika Serikat, isu keamanan komunitas dan meningkatnya Islamofobia menjadi perhatian utama. Banyak peserta menilai tragedi San Diego bukan sekadar serangan terhadap satu rumah ibadah, tetapi simbol meningkatnya ancaman terhadap minoritas Muslim di AS.
Lena Masri dari Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengatakan komunitas Muslim tidak boleh hanya berhenti pada tahap berkabung. Ia menegaskan bahwa korban penembakan harus menjadi pengingat pentingnya memperkuat perjuangan melawan ujaran kebencian dan kekerasan.
“Kami berutang kepada mereka sebuah keteguhan,” kata Masri dalam pernyataannya.
Sejumlah pemimpin Muslim juga menyoroti meningkatnya retorika anti-Muslim di ruang publik dan media sosial sejak konflik Gaza memanas pada 2023. Mereka menilai narasi kebencian yang terus berkembang telah menciptakan lingkungan berbahaya bagi komunitas Muslim di Amerika.
Direktur CAIR wilayah San Francisco Bay Area bahkan menuding sebagian pejabat publik ikut memperburuk situasi melalui pernyataan yang dianggap memicu sentimen anti-Muslim. Organisasi itu mendesak pemerintah federal memperkuat perlindungan terhadap rumah ibadah dan komunitas minoritas.
Di San Diego sendiri, suasana berkabung masih terasa. Ratusan warga lintas agama menghadiri doa bersama dan aksi solidaritas untuk mengenang para korban. Tokoh Muslim, Kristen, Yahudi, dan pejabat sipil hadir bersama menyerukan persatuan dan menolak kekerasan berbasis agama.
Imam Islamic Center of San Diego, Taha Hassane, menyebut komunitasnya telah lama hidup dengan kekhawatiran terhadap ancaman kebencian. Namun ia menegaskan tragedi itu tidak akan membuat komunitas Muslim mundur atau hidup dalam ketakutan.
Sementara itu, berbagai penggalangan dana untuk keluarga korban dan pemulihan komunitas terus mengalir. Donasi yang terkumpul dilaporkan telah mencapai jutaan dolar AS sebagai bentuk solidaritas masyarakat luas terhadap komunitas Muslim San Diego.
Kasus penembakan ini kembali memicu perdebatan nasional mengenai ekstremisme domestik, penyebaran ujaran kebencian di internet, dan keamanan rumah ibadah di Amerika Serikat. Banyak kelompok hak sipil meminta pemerintah mengambil langkah lebih serius untuk mencegah radikalisasi berbasis kebencian yang dinilai semakin mudah menyebar melalui platform digital.
Komunitas Muslim di Amerika Serikat berupaya mengubah rasa duka menjadi gerakan kolektif melawan kebencian setelah penembakan mematikan di Islamic Center of San Diego, California, yang menewaskan tiga orang pekan lalu. Dalam pertemuan tahunan Islamic Circle of North America (ICNA), para tokoh Muslim menyerukan solidaritas, advokasi politik, dan perlindungan lebih kuat terhadap komunitas Muslim di AS.
Peristiwa penembakan yang kini diselidiki sebagai kejahatan bermotif kebencian itu mengguncang komunitas Muslim Amerika. Tiga korban yang tewas diidentifikasi sebagai Amin Abdullah, petugas keamanan masjid, Mansour Kaziha, dan Nader Awad. Ketiganya disebut sebagai sosok yang berupaya melindungi jamaah saat serangan terjadi.
Menurut laporan otoritas AS, dua remaja pelaku diduga terpapar ideologi supremasi kulit putih dan kebencian anti-Muslim melalui internet. Mereka kemudian melakukan serangan bersenjata sebelum akhirnya ditemukan tewas akibat bunuh diri.
Dalam konferensi ICNA yang dihadiri lebih dari 25 ribu Muslim dari berbagai wilayah Amerika Serikat, isu keamanan komunitas dan meningkatnya Islamofobia menjadi perhatian utama. Banyak peserta menilai tragedi San Diego bukan sekadar serangan terhadap satu rumah ibadah, tetapi simbol meningkatnya ancaman terhadap minoritas Muslim di AS.
Lena Masri dari Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengatakan komunitas Muslim tidak boleh hanya berhenti pada tahap berkabung. Ia menegaskan bahwa korban penembakan harus menjadi pengingat pentingnya memperkuat perjuangan melawan ujaran kebencian dan kekerasan.
“Kami berutang kepada mereka sebuah keteguhan,” kata Masri dalam pernyataannya.
Sejumlah pemimpin Muslim juga menyoroti meningkatnya retorika anti-Muslim di ruang publik dan media sosial sejak konflik Gaza memanas pada 2023. Mereka menilai narasi kebencian yang terus berkembang telah menciptakan lingkungan berbahaya bagi komunitas Muslim di Amerika.
Direktur CAIR wilayah San Francisco Bay Area bahkan menuding sebagian pejabat publik ikut memperburuk situasi melalui pernyataan yang dianggap memicu sentimen anti-Muslim. Organisasi itu mendesak pemerintah federal memperkuat perlindungan terhadap rumah ibadah dan komunitas minoritas.
Di San Diego sendiri, suasana berkabung masih terasa. Ratusan warga lintas agama menghadiri doa bersama dan aksi solidaritas untuk mengenang para korban. Tokoh Muslim, Kristen, Yahudi, dan pejabat sipil hadir bersama menyerukan persatuan dan menolak kekerasan berbasis agama.
Imam Islamic Center of San Diego, Taha Hassane, menyebut komunitasnya telah lama hidup dengan kekhawatiran terhadap ancaman kebencian. Namun ia menegaskan tragedi itu tidak akan membuat komunitas Muslim mundur atau hidup dalam ketakutan.
Sementara itu, berbagai penggalangan dana untuk keluarga korban dan pemulihan komunitas terus mengalir. Donasi yang terkumpul dilaporkan telah mencapai jutaan dolar AS sebagai bentuk solidaritas masyarakat luas terhadap komunitas Muslim San Diego.
Kasus penembakan ini kembali memicu perdebatan nasional mengenai ekstremisme domestik, penyebaran ujaran kebencian di internet, dan keamanan rumah ibadah di Amerika Serikat. Banyak kelompok hak sipil meminta pemerintah mengambil langkah lebih serius untuk mencegah radikalisasi berbasis kebencian yang dinilai semakin mudah menyebar melalui platform digital.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


