Newestindonesia.co.id, Krisis kemiskinan dan kelaparan yang semakin memburuk di Afghanistan memaksa sejumlah keluarga mengambil keputusan paling menyakitkan dalam hidup mereka: menjual anak sendiri demi membeli makanan, membayar utang, atau biaya pengobatan.
Laporan BBC (Senin, 25 Mei 2026) yang dikutip berbagai media internasional menggambarkan situasi memilukan di Provinsi Ghor, Afghanistan bagian tengah. Wilayah itu kini menjadi simbol krisis kemanusiaan yang menghantam negara tersebut sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021.
Salah satu kisah paling menyayat datang dari Abdul Rashid Azimi, seorang ayah yang mengaku siap menjual salah satu dari dua anak kembar perempuannya yang baru berusia tujuh tahun.
Dengan mata berkaca-kaca, Azimi mengatakan dirinya sudah tidak mampu lagi memberi makan keluarganya.
“Saya pulang kerja dengan lapar, haus, bingung, dan tertekan. Anak-anak saya meminta roti, tetapi saya tidak punya apa-apa untuk diberikan,” kata Azimi kepada BBC.
Ia mengaku jika menjual satu anaknya, uang tersebut dapat digunakan untuk menghidupi anggota keluarga lainnya selama beberapa tahun.
“Ini menghancurkan hati saya, tetapi hanya ini jalan yang tersisa,” ujarnya.
Kondisi keluarga Azimi mencerminkan penderitaan jutaan warga Afghanistan lainnya. Sang istri, Kayhan, mengatakan keluarganya hanya mampu makan roti dan air panas setiap hari.
“Bahkan teh pun kami tidak punya,” katanya.
Anak-anak mereka yang masih remaja kini harus bekerja di jalanan. Ada yang menyemir sepatu dan ada pula yang mengumpulkan sampah untuk dijadikan bahan bakar memasak.
Kisah tragis lainnya datang dari Saeed Ahmad, warga Ghor yang terpaksa “menjual” putri berusia lima tahun kepada kerabatnya demi biaya operasi sang anak.
Putrinya didiagnosis menderita usus buntu dan kista hati. Karena tidak memiliki uang untuk pengobatan, Ahmad akhirnya menerima pembayaran sekitar 200 ribu afghani atau sekitar US$3.200 sebagai bagian dari perjanjian pernikahan anak di masa depan.
“Saya tidak punya uang untuk biaya pengobatan. Jadi saya menjual anak perempuan saya kepada kerabat,” katanya.
Ahmad menjelaskan bahwa kerabatnya belum membawa sang anak karena pembayaran dilakukan bertahap dalam lima tahun ke depan.
“Kalau saya mengambil seluruh uang saat itu juga, mereka akan langsung membawanya pergi,” ujarnya.
Meski berat, Ahmad mengaku memilih langkah tersebut demi menyelamatkan nyawa putrinya.
“Kalau saya punya uang, saya tidak akan pernah mengambil keputusan ini. Tetapi saya takut anak saya meninggal tanpa operasi,” katanya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tiga dari empat warga Afghanistan kini tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Krisis ekonomi, tingginya pengangguran, dan menurunnya bantuan internasional memperparah kondisi masyarakat.
BBC melaporkan banyak pria di Ghor berkumpul setiap pagi di persimpangan jalan hanya untuk berharap ada pekerjaan harian. Namun sebagian besar pulang tanpa penghasilan.
Seorang buruh bernama Juma Khan mengaku hanya mendapat pekerjaan tiga hari dalam enam minggu terakhir.
“Anak-anak saya tidur dalam keadaan lapar selama tiga malam berturut-turut,” katanya.
Krisis ini juga meningkatkan angka kematian anak akibat malnutrisi dan minimnya akses layanan kesehatan. Seorang warga bernama Mohammad Hashim mengatakan putrinya yang berusia 14 bulan meninggal karena kelaparan dan kekurangan obat-obatan.
“Ketika seorang anak sakit dan lapar, tentu saja mereka bisa meninggal,” ujarnya.
Di rumah sakit utama di Chaghcharan, ibu kota Provinsi Ghor, bangsal bayi dilaporkan penuh sesak. Banyak bayi mengalami kekurangan gizi dan kesulitan bernapas.
Perawat bernama Fatima Husseini mengatakan kematian bayi kini menjadi pemandangan yang hampir terjadi setiap hari.
“Dulu saya sangat sedih melihat anak-anak meninggal. Sekarang hal itu hampir menjadi sesuatu yang biasa,” katanya.
Krisis kemanusiaan di Afghanistan terus memburuk setelah bantuan internasional berkurang drastis. Organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa jutaan anak kini terancam kehilangan pendidikan, dipaksa bekerja, hingga mengalami pernikahan dini akibat kemiskinan ekstrem.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


