Newestindonesia.co.id, Negara-negara Asia kini berlomba mendapatkan pasokan minyak mentah Rusia di tengah krisis energi global yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Konflik yang telah berlangsung sekitar satu bulan itu mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dunia, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi global.
Sebagian besar minyak yang melewati Selat Hormuz selama ini ditujukan ke pasar Asia. Namun, gangguan distribusi akibat konflik dan meningkatnya serangan, termasuk dari kelompok Houthi yang didukung Iran, memperparah ketidakpastian pasokan energi dunia.
Dilansir melalui Associated Press (31/3),Untuk menjaga stabilitas pasokan global, pemerintah Amerika Serikat sementara melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia yang sudah berada di l aut. Kebijakan ini membuka peluang bagi negara-negara Asia untuk meningkatkan impor dari Rusia.
Asia Mulai Berburu Minyak Rusia
Lonjakan permintaan terjadi di kawasan Asia, termasuk dari negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina yang mulai menunjukkan minat baru terhadap minyak Rusia.
Filipina bahkan untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir mengimpor minyak mentah Rusia setelah menetapkan status darurat energi nasional. Langkah ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi negara-negara berkembang akibat lonjakan harga energi.
Namun, persaingan tidak mudah. China dan India telah lebih dulu mengamankan pasokan dalam jumlah besar.
Analis minyak mentah dari Kpler, Muyu Xu, mengatakan bahwa peluang mendapatkan pasokan tambahan semakin terbatas.
“Masalah utamanya adalah berapa banyak kargo yang masih tersedia di pasar,” ujarnya.
Kapasitas Rusia Mulai Terbatas
Meski permintaan meningkat, Rusia diperkirakan tidak mampu menaikkan ekspor secara signifikan. Saat ini, ekspor minyak Rusia sudah mendekati puncak, sekitar 3,8 juta barel per hari.
Selain itu, konflik Rusia-Ukraina yang berlangsung dan serangan drone terhadap fasilitas energi Rusia juga menghambat kapasitas ekspor negara tersebut.
Situasi ini membuat peluang bagi negara-negara Asia untuk mendapatkan pasokan tambahan menjadi semakin sempit dan bersifat sementara.
Dampak Nyata: Krisis di Filipina
Filipina menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Antrean panjang di SPBU mulai terjadi, maskapai mempertimbangkan pembatasan bahan bakar, dan pemerintah menyiapkan bantuan tunai bagi sektor transportasi.
Menurut Kairos Dela Cruz dari Institute for Climate and Sustainable Cities, krisis ini berpotensi memperburuk kemiskinan.
“Ini pasti akan mendorong lebih banyak orang jatuh ke garis kemiskinan,” katanya.
Sebelum konflik, sekitar 97% impor minyak Filipina berasal dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan berdampak besar terhadap stabilitas energi nasional.
China dan India Lebih Unggul
China dan India memiliki keunggulan karena sudah lebih dulu membeli minyak Rusia dalam jumlah besar sebelum krisis memuncak.
China bahkan memiliki cadangan minyak sekitar 1,2 miliar barel, setara hampir empat bulan impor, sehingga lebih tahan terhadap guncangan jangka pendek.
Sementara itu, India meningkatkan impor minyak Rusia menjadi sekitar 1,9 juta barel per hari pada Maret, meski masih belum cukup untuk menggantikan pasokan dari Timur Tengah.
Rusia Diuntungkan dari Krisis
Di tengah situasi ini, Rusia justru menjadi pihak yang paling diuntungkan karena meningkatnya permintaan dan harga energi global.
Analis dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis, Sam Reynolds, menilai negara-negara Asia kini tidak punya banyak pilihan.
“Negara-negara akan melakukan apa pun untuk menjaga keamanan energi mereka,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun ada dilema moral terkait pembelian minyak dari Rusia, kebutuhan energi menjadi prioritas utama bagi banyak negara.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login