Newestindonesia.co.id, Warga Bolivia mulai beralih ke mobil listrik di tengah krisis bahan bakar yang semakin parah. Kelangkaan bensin, melonjaknya harga BBM, hingga isu kualitas bahan bakar yang buruk mendorong masyarakat mencari alternatif transportasi yang lebih murah dan stabil.
Fenomena ini terjadi setelah pemerintah Bolivia mengakhiri subsidi bahan bakar yang selama bertahun-tahun menjaga harga bensin tetap rendah. Kebijakan tersebut membuat harga BBM naik hampir dua kali lipat dan memicu tekanan ekonomi baru bagi masyarakat.
Di sejumlah kota seperti La Paz, semakin banyak kendaraan listrik terlihat melintas di jalanan. Salah satunya milik Simón Huanca, seorang pengrajin lokal yang memilih membeli mobil listrik demi mengurangi biaya operasional sehari-hari.
“Sejak tahun lalu saya mencoba mendapatkan mobil listrik untuk menghemat biaya,” ujar Huanca saat mengendarai kendaraan listriknya di kawasan permukiman kelas pekerja, dikutip melalui Associated Press, Senin (11/05/2026).
Lonjakan minat terhadap kendaraan listrik juga dipicu oleh krisis devisa yang dialami Bolivia. Cadangan dolar AS yang terus menurun membuat pemerintah kesulitan mengimpor bahan bakar dalam jumlah cukup.
Akibatnya, antrean panjang di SPBU menjadi pemandangan umum di berbagai wilayah negara tersebut. Situasi diperburuk oleh munculnya keluhan masyarakat terkait kualitas bensin yang dianggap buruk atau tercampur bahan lain.
Kondisi tersebut membuat kendaraan listrik mulai dipandang sebagai solusi yang lebih ekonomis dan dapat diandalkan dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.
Menurut laporan terbaru, jumlah kendaraan listrik yang terdaftar di Bolivia meningkat tajam dalam lima tahun terakhir. Dari sekitar 500 unit, kini jumlahnya mencapai lebih dari 3.300 kendaraan, dengan pertumbuhan paling pesat terjadi dalam dua tahun terakhir.
Pemerintah Bolivia juga mulai membuka jalan bagi pertumbuhan pasar kendaraan listrik dengan menghapus tarif impor kendaraan. Kebijakan itu membuat mobil listrik, khususnya produksi China, menjadi lebih kompetitif di pasar lokal.
Meski begitu, penggunaan kendaraan listrik di Bolivia masih menghadapi berbagai tantangan. Infrastruktur pengisian daya publik masih terbatas dan harga kendaraan listrik belum sepenuhnya terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Namun sejumlah warga menilai pengeluaran awal membeli mobil listrik akan terbayar dalam jangka panjang karena biaya pengisian daya jauh lebih murah dibanding membeli bensin.
Pengacara asal Bolivia, Ever Vera, menjadi salah satu warga yang ikut beralih ke kendaraan listrik akibat kondisi ekonomi dan krisis energi yang terjadi saat ini.
Gelombang peralihan ke kendaraan listrik juga menciptakan peluang usaha baru. Teknisi lokal mulai menawarkan jasa pemasangan stasiun pengisian daya pribadi di rumah-rumah warga yang memiliki mobil listrik.
Krisis energi Bolivia kini menjadi contoh bagaimana tekanan ekonomi dan kelangkaan bahan bakar dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di negara berkembang. Para pengamat memperkirakan tren penggunaan EV atau electric vehicle di Bolivia akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


