Newestindonesia.co.id, Perumda Paljaya memperkuat layanan pengelolaan air limbah domestik dengan menghadirkan layanan operasional dan pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk gedung perkantoran di Jakarta. Langkah ini dilakukan untuk memastikan sistem pengolahan limbah di berbagai bangunan komersial berjalan optimal dan sesuai standar lingkungan.
Seiring meningkatnya pembangunan gedung perkantoran dan kawasan komersial di Jakarta, kebutuhan terhadap pengelolaan limbah domestik dinilai semakin penting. Banyak gedung telah memiliki IPAL, namun pengelolaannya disebut belum dilakukan secara maksimal sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak dipelihara secara rutin.
IPAL sendiri memiliki fungsi utama mengolah air limbah hasil aktivitas harian sebelum dibuang ke saluran lingkungan. Sistem ini memerlukan pemantauan berkala agar seluruh proses pengolahan tetap berjalan stabil dan aman bagi lingkungan sekitar.
Direktur Teknik dan Usaha Paljaya, Rizki Shebubakar menjelaskan bahwa operasional IPAL tidak cukup hanya dibangun, tetapi harus dikelola secara berkelanjutan.
“Namun dalam praktiknya, tidak semua gedung memiliki operator khusus untuk menangani IPAL. Kondisi ini sering membuat sistem pengolahan air limbah tidak terpantau secara maksimal,” ujar Rizki dalam keterangannya, Senin (11/5).
Ia mengatakan sejumlah komponen penting dalam sistem IPAL seperti pompa, blower, hingga bak pengolahan harus diperiksa secara berkala agar proses pengolahan limbah tetap optimal. Menurutnya, pengawasan rutin menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas sanitasi gedung dan mencegah kerusakan sistem di kemudian hari.
Melalui layanan operasional IPAL yang dimiliki, Paljaya menawarkan bantuan mulai dari monitoring sistem, pemeliharaan instalasi, hingga penanganan gangguan operasional. Perusahaan juga menyediakan dukungan teknis berupa troubleshooting dan optimalisasi performa sistem pengolahan limbah.
Selain operasional harian, Paljaya juga menyoroti pentingnya pengelolaan lumpur residu hasil pengolahan limbah. Lumpur tersebut disebut akan terus mengendap di dalam sistem IPAL dan harus disedot secara berkala agar kapasitas pengolahan tidak menurun.
“Lumpur ini akan mengendap di dalam IPAL dan perlu dikeluarkan secara berkala. Jika tidak disedot, endapan lumpur dapat terus bertambah dan mengurangi kapasitas pengolahan IPAL,” kata Rizki.
Ia menambahkan, penumpukan lumpur residu dapat berdampak pada menurunnya performa instalasi hingga memicu persoalan lingkungan apabila tidak segera ditangani. Karena itu, penyedotan lumpur menjadi bagian penting dalam siklus pemeliharaan IPAL gedung.
Dalam layanan terintegrasinya, Paljaya tidak hanya melakukan penyedotan lumpur, tetapi juga menangani proses pengangkutan dan pengolahan akhir di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Sistem tersebut diklaim mampu memastikan limbah benar-benar diolah sebelum dikembalikan ke lingkungan.
Sebagai BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang bergerak di bidang pengelolaan air limbah domestik, Paljaya saat ini menyediakan berbagai layanan sanitasi, mulai dari SPALD-T, sedot tinja, laboratorium pengujian limbah, hingga operasional IPAL untuk gedung dan kawasan komersial.
Perusahaan berharap layanan tersebut dapat membantu pengelola gedung di Jakarta dalam menjaga kualitas sanitasi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan. Informasi layanan dapat diakses melalui kanal resmi Paljaya maupun media sosial perusahaan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


