Bukan Karena Gaji, Ini Alasan Gen Z Banyak Pilih Resign Dari Pekerjaan

0
istockphoto-2204917953-612x612

Foto: iStock/VioletaStoimenova

Newestindonesia.co.id, Gelombang pengunduran diri karyawan muda belakangan semakin sering terjadi. Generasi Z atau Gen Z—kelompok yang lahir sekitar 1997 hingga 2012—disebut menjadi generasi yang paling cepat mengambil keputusan resign dari tempat kerja dibanding generasi sebelumnya.

Fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga secara global. Media sosial dipenuhi cerita karyawan muda yang memutuskan keluar dari pekerjaan tetap, bahkan baru bekerja beberapa bulan.

Pertanyaannya, apakah Gen Z mudah menyerah? Atau justru dunia kerja saat ini yang terlalu menekan?

Tekanan Kerja Jadi Alasan Utama

Banyak Gen Z mengaku bukan soal gaji yang membuat mereka pergi, melainkan tekanan mental yang dirasakan sejak hari-hari awal bekerja.

Target tinggi, jam kerja panjang, budaya lembur, hingga atasan yang minim empati disebut menjadi pemicu utama.

Beberapa pekerja muda mengungkapkan bahwa mereka merasa:

  • Diharapkan produktif berlebihan sejak awal masuk kerja
  • Minim bimbingan tapi dituntut serba bisa
  • Lingkungan kerja penuh kompetisi tidak sehat
  • Komunikasi satu arah dari atasan

“Baru tiga bulan kerja, tapi rasanya sudah kayak setahun burnout,” tulis salah satu pengguna X (Twitter) yang viral.

Gen Z Lebih Sadar Kesehatan Mental

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung bertahan demi stabilitas, Gen Z dikenal lebih berani memprioritaskan kesehatan mental.

Bagi mereka, pekerjaan bukan satu-satunya identitas hidup. Jika lingkungan kerja dianggap merusak mental, resign bukan kegagalan, tapi bentuk perlindungan diri.

Banyak dari mereka juga tumbuh di era keterbukaan soal:

  • Burnout
  • Anxiety
  • Depresi kerja
  • Work-life balance

Sehingga keputusan keluar dari kantor tidak lagi dianggap tabu.

Budaya Kerja Lama Dianggap Tak Relevan

Salah satu benturan terbesar terjadi antara budaya kerja lama dengan ekspektasi generasi baru.

Gen Z cenderung menginginkan:

  • Jam kerja fleksibel
  • Penilaian berbasis hasil, bukan jam duduk
  • Komunikasi terbuka
  • Lingkungan suportif
  • Kesempatan berkembang
Baca juga:  Setiap Imlek Selalu Hujan? Ternyata Ini Penyebabnya

Sementara banyak kantor masih mempertahankan pola:

  • Lembur sebagai standar loyalitas
  • Senioritas kaku
  • Minim feedback sehat
  • Atasan otoriter

Ketika dua budaya ini bertemu, konflik pun muncul.

Bukan Anti Kerja Keras, Tapi Anti Disiksa

Stigma yang sering muncul adalah Gen Z disebut manja atau tidak tahan banting. Padahal banyak dari mereka justru bekerja keras—namun menolak sistem yang tidak manusiawi.

Mereka mau bekerja keras jika:

  • Tujuan jelas
  • Lingkungan sehat
  • Apresiasi nyata
  • Batas kerja dihargai

Yang ditolak adalah kerja keras tanpa arah, tanpa penghargaan, dan mengorbankan kesehatan mental.

Media Sosial Mempercepat Keputusan Resign

Peran media sosial juga besar dalam fenomena ini.

Gen Z setiap hari melihat:

  • Kisah sukses freelance
  • Remote worker keliling dunia
  • Pebisnis muda sukses
  • Konten “kerja tanpa kantor”

Hal ini membuka perspektif bahwa hidup tak harus terjebak di kantor toxic.

Resign pun tak lagi dianggap akhir dunia, melainkan awal mencari hidup yang lebih sehat.

Tapi Resign Terlalu Cepat Juga Berisiko

Meski banyak alasan logis, para pakar karier mengingatkan bahwa resign impulsif tetap membawa risiko:

  • CV terkesan lompat-lompat
  • Kehilangan kestabilan finansial
  • Sulit naik level karier
  • Tekanan ekonomi meningkat

Gen Z disarankan tetap memiliki perencanaan matang sebelum keluar dari pekerjaan, bukan sekadar karena emosi sesaat.

Perusahaan Mulai Beradaptasi

Kabar baiknya, banyak perusahaan kini mulai berubah:

  • Program kesehatan mental
  • Jam kerja fleksibel
  • Sistem hybrid/remote
  • Budaya feedback terbuka
  • Fokus kesejahteraan karyawan

Perusahaan yang gagal beradaptasi perlahan mulai kehilangan talenta muda terbaik.

Dunia Kerja Sedang Berubah

Fenomena resign Gen Z sebenarnya bukan krisis, melainkan tanda perubahan zaman.

Generasi baru tidak lagi mau:

  • Hidup hanya untuk kerja
  • Menormalisasi burnout
  • Takut keluar dari lingkungan buruk
Baca juga:  Mimpi Melihat Ular Saat Tidur? Begini Penjelasan Primbon Jawa

Mereka menginginkan hidup seimbang, sehat, dan bermakna.

Jika perusahaan tidak berubah, gelombang resign kemungkinan akan terus terjadi.

Kesimpulan: Bukan Gen Z yang Lemah, Tapi Sistem yang Terlalu Keras

Gen Z bukan generasi pemalas. Mereka hanya generasi yang berani berkata cukup saat sistem kerja tak manusiawi.

Resign massal ini menjadi sinyal keras bahwa:

  • Budaya kerja perlu berubah
  • Kesehatan mental adalah prioritas
  • Loyalitas bukan berarti menderita

Ke depan, dunia kerja akan semakin berpihak pada keseimbangan hidup—atau kehilangan generasi produktifnya.

(DAW)

Tinggalkan Balasan