Newestindonesia.co.id, Kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang periode Januari hingga Oktober 2025 mencatat surplus signifikan, yang mencerminkan daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang kompleks. Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Republik Indonesia, Dyah Roro Esti, menyatakan bahwa surplus ini menunjukkan fundamental ekonomi yang kuat serta kemampuan ekspor nasional dalam menghadapi tantangan global.
Surplus neraca perdagangan periode Januari–Oktober 2025 ditopang oleh pertumbuhan ekspor yang terus meningkat, khususnya di sektor nonmigas. Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang periode tersebut, surplus nasional mencapai puluhan miliar dolar AS, dengan neraca nonmigas sebagai kontributor utama sementara sektor migas masih mencatat defisit.
Kinerja Ekspor Nonmigas Menjadi Pilar Utama
Menurut Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, surplus perdagangan selama Januari–Oktober 2025 terus dipacu oleh sektor nonmigas yang kuat, termasuk produk manufaktur, lemak dan minyak hewani/nabati, serta bahan mineral. Ini menunjukkan diversifikasi ekspor Indonesia yang semakin baik dan mampu mengimbangi pelemahan di sektor migas.
Ekspor Indonesia dalam periode ini juga meningkat sekitar 6,96% secara tahunan, didukung oleh permintaan kuat dari Tiongkok, Amerika Serikat, dan India—tiga negara tujuan utama ekspor Indonesia. Kontribusi gabungan ketiga pasar ini mencapai lebih dari 40 persen total ekspor nonmigas.
Surplus Berkelanjutan Menandai Tren Positif
Surplus neraca perdagangan Indonesia bukan fenomena sesaat. Sejak Mei 2020, negara ini terus mencatatkan surplus secara berturut-turut setiap bulan—lebih dari 66 bulan berturut-turut hingga Oktober 2025. Ini merupakan indikator stabilitas ekonomi makro yang jarang terjadi di pasar berkembang.
BPS mencatat bahwa surplus perdagangan nasional mencapai sekitar USD 35,88 miliar sepanjang Januari–Oktober 2025, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selama periode itu, ekspor Indonesia tumbuh lebih cepat dibanding impor, yang juga menunjukkan efisiensi rantai perdagangan global Indonesia.
Oktober 2025 – Surplus Masih Terjaga Meski Dunia Menantang
Meskipun pertumbuhan ekspor di bulan Oktober sempat melambat akibat permintaan global yang menurun, Indonesia tetap mencatat surplus perdagangan. Menurut Bank Indonesia dan data BPS, surplus Oktober 2025 sebesar USD 2,39 miliar menjadi bukti bahwa struktur ekspor nonmigas yang kuat mampu menopang kinerja perdagangan nasional secara keseluruhan.
Bank Indonesia melihat surplus yang berkelanjutan ini sebagai fundamental positif bagi ketahanan eksternal perekonomian Indonesia, sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Tantangan dan Prospek yang Harus Diantisipasi
Walaupun surplus perdagangan nasional menguat, beberapa tantangan tetap perlu menjadi perhatian. Misalnya, penurunan permintaan global di sektor migas dan komoditas tertentu seperti batu bara dan minyak kasar telah memengaruhi dinamika ekspor dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh perlambatan permintaan dari beberapa negara mitra seperti Tiongkok.
Namun, surplus yang berkelanjutan dan pertumbuhan ekspor nonmigas memberi sinyal positif bahwa perekonomian Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi global.
Editor: DAW



