Newestindonesia.co.id, Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Provinsi Gorontalo hingga 31 Maret 2026 menunjukkan belanja negara bergerak lebih cepat dibandingkan pendapatan. Kondisi tersebut menyebabkan APBN di daerah itu mengalami defisit hingga Rp2,1 triliun.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam laporan fiskal daerah, pendapatan negara di Gorontalo baru terealisasi sebesar Rp303,92 miliar atau sekitar 18,94 persen dari target tahun berjalan. Di sisi lain, belanja negara telah mencapai Rp2,449 triliun atau sekitar 26,89 persen dari pagu anggaran.
Besarnya nilai belanja yang jauh melampaui pendapatan mendorong terjadinya defisit fiskal sebesar Rp2,1 triliun. Sebagian besar belanja tersebut digunakan untuk transfer ke daerah yang mencapai Rp1,594 triliun atau sekitar 65 persen dari total belanja negara di Gorontalo.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perputaran ekonomi daerah masih sangat bergantung pada dana transfer pemerintah pusat. Pendapatan asli daerah (PAD) dinilai belum mampu menjadi penopang utama pembiayaan pembangunan di Gorontalo.
Selain itu, pendapatan daerah secara keseluruhan hingga Maret 2026 tercatat sebesar Rp980,67 miliar atau 13,92 persen dari target. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen masih berasal dari transfer pusat, sementara kontribusi PAD relatif kecil.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Gorontalo, Arie, berharap digitalisasi layanan pemerintah dapat membantu meningkatkan pendapatan daerah, terutama dari sektor pajak kendaraan bermotor.
“Mudah-mudahan dengan semakin berkembangnya teknologi yang semalam sudah resmikan digitalisasi samsat, benar ya pak? Kita harapkan bisa ada peningkatan pendapatan asli daerah sehingga proporsi dengan TKD semakin meningkat,” kata Arie.
Meski APBN mengalami defisit, pemerintah menilai belanja negara tetap menjadi instrumen penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang aktivitas ekonomi daerah. Belanja pemerintah juga diarahkan untuk mendukung berbagai program prioritas, perlindungan sosial, hingga pembangunan infrastruktur di Gorontalo.
Di sisi lain, kondisi ekonomi Gorontalo pada awal 2026 disebut masih menunjukkan tren positif. Beberapa indikator seperti Nilai Tukar Petani (NTP), Nilai Tukar Nelayan (NTN), hingga penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mengalami peningkatan.
Pemerintah daerah berharap penguatan sektor produktif, peningkatan investasi, serta optimalisasi digitalisasi pelayanan publik dapat memperbesar penerimaan daerah dan mengurangi ketergantungan terhadap transfer pusat di masa mendatang.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


