Taruhan Kripto Pakistan Berbuah Manis: Setor Rp8,1 Triliun Ke Bisnis Trump Demi Akses Gedung Putih
Menteri Keuangan Pakistan Muhammad Aurangzeb dan Zach Witkoff dari World Liberty Financial menandatangani perjanjian pada Januari 2026 di Islamabad, sementara Kepala Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir, Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar berdiri di belakang [Handout/Otoritas Regulasi Aset Virtual Pakistan]. Via Al Jazeera
Dua bulan kemudian, secara mengejutkan Pakistan menominasikan Donald Trump untuk menerima Penghargaan Nobel Perdamaian, memuji “kepemimpinan luar biasa” Trump yang dianggap membantu meredakan ketegangan dengan India.
Tak lama setelah itu, Trump membalas budi dengan menjamu Panglima Militer Pakistan, Field Marshal Asim Munir, untuk makan siang formal di Gedung Putih. Ini mencatat sejarah sebagai pertama kalinya seorang Presiden AS menerima panglima militer Pakistan yang bukan merupakan kepala negara resmi.
Kedekatan ini berlanjut hingga pecahnya ketegangan regional akibat perang AS-Israel melawan Iran baru-baru ini. Pakistan berhasil memosisikan dirinya sebagai mediator utama (jalur belakang) antara Washington dan Teheran. Bulan lalu di Swiss, Wakil Presiden AS JD Vance bahkan secara terbuka memuji Munir sebagai seorang “negarawan besar” atas perannya menjembatani kerangka perdamaian.
Mantan ketua PVARA, Bilal Bin Saqib, yang sempat ditunjuk menjadi penasihat resmi untuk World Liberty Financial milik Trump sebelum akhirnya bergabung dengan pemerintah, sempat mengakui dalam wawancaranya dengan Bloomberg bahwa strategi kripto ini berhasil membuka pintu-pintu kekuasaan yang sebelumnya tertutup di Washington.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih menegaskan tidak ada konflik kepentingan dalam kesepakatan bisnis keluarga Presiden. Sementara itu, PVARA dan Kementerian Keuangan Pakistan memilih untuk tidak memberikan komentar lebih lanjut terkait kelanjutan operasional stablecoin USD1 tersebut. Pada akhirnya, apakah proyek kripto ini menguntungkan para pekerja Pakistan atau tidak, Islamabad merasa taruhan politik mereka telah terbayar lunas.
(DAW)
