Newestindonesia.co.id, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto memastikan pemerintah akan mengevaluasi serta menindaklanjuti berbagai temuan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Hal ini disampaikan menyusul ditemukannya sejumlah indikasi kecurangan di berbagai lokasi pelaksanaan ujian. Pemerintah, melalui panitia pusat Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), menegaskan komitmen untuk menjaga integritas proses seleksi masuk perguruan tinggi.
Brian mengungkapkan bahwa beberapa modus kecurangan berhasil terdeteksi sejak awal pelaksanaan ujian, termasuk penggunaan perangkat tersembunyi.
“Memang pada sesi pertama hari ini ditemukan beberapa indikasi kecurangan di beberapa lokasi. Untuk modus penggunaan alat bantu, misalnya, itu dapat terdeteksi karena seluruh peserta diperiksa terlebih dahulu dengan metal detector sebelum memasuki ruang ujian,” kata Brian kepada wartawan dikutip melalui detikNews (22/4).
Selain itu, panitia juga menemukan upaya manipulasi identitas melalui rekayasa foto. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sistem pengawasan berbasis teknologi telah diterapkan secara ketat.
“Demikian juga dengan modus rekayasa foto. Sejak awal, kami bersama Panitia Pusat SNPMB pada pelaksanaan SNBT sudah menggunakan face recognition dan dukungan AI untuk mendeteksi berbagai indikasi kecurangan. Misalnya, apabila ada ketidakwajaran antara asal sekolah dengan lokasi ujian yang dipilih, atau apabila ada peserta yang mendaftar menggunakan foto maupun identitas wajah orang lain,” katanya.
Beragam Modus Kecurangan Terungkap
Temuan di lapangan menunjukkan bahwa modus kecurangan semakin beragam dan canggih. Selain penggunaan alat bantu elektronik, praktik perjokian juga kembali ditemukan.
Kasus perjokian ini teridentifikasi di beberapa kampus, seperti Universitas Sulawesi Barat, Universitas Negeri Surabaya, hingga Universitas Negeri Malang.
Dalam kasus tersebut, satu orang diketahui menggunakan lebih dari satu identitas untuk mengikuti ujian di tahun berbeda.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, menjelaskan bahwa sistem pelacakan data berhasil mengungkap praktik tersebut sejak dini.
“Juga masih di pusat UTBK Unsulbar, itu ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi ini sengaja dilihat, jadi orang yang sama itu mengikuti UTBK di tahun 2025-2026 untuk nama pesertanya. Jadi orangnya sama, ikut ujian 2025-2026 untuk dua nama. Bisa dipahami ya? Jadi itu sudah pasti merupakan joki yang mengganti,” kata Eduart.
Kasus lain yang cukup mencengangkan terjadi di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Seorang peserta diketahui menggunakan alat bantu dengar yang disembunyikan hingga ke dalam telinga.
“Yang berikut juga ada kecurangan di pusat UTBK di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, berupa untuk menggunakan alat bantu dengar. Alat bantu dengarnya sampai masuk ke dalam telinga. Jadi kita harus bawa, oleh panitia pusat UTBK ini harus dibawa ke dokter THT untuk bisa melepas ini,” tutur Edward.
Pemerintah Tegaskan Evaluasi dan Penindakan
Mendikti menegaskan bahwa seluruh temuan kecurangan akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh setelah pelaksanaan UTBK selesai. Pemerintah juga memastikan bahwa setiap pelanggaran akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
“Namun saat ini, fokus utama kami adalah memastikan seluruh rangkaian UTBK berjalan dengan tertib, lancar, aman, dan adil sampai selesai. Semua temuan kecurangan akan dicatat, didalami, dan diproses sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Brian.
Di sisi lain, Brian juga mengingatkan para peserta untuk mengandalkan kemampuan diri sendiri dalam menghadapi ujian.
“Pesan saya untuk adik-adik calon mahasiswa: percayalah pada kemampuan diri sendiri. Kalian sudah belajar dan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, tentu juga dengan doa orang tua. Insyaallah, dengan usaha yang baik dan cara yang benar, adik-adik akan mendapatkan hasil terbaik,” ungkapnya.
Komitmen Jaga Integritas Seleksi
Pemerintah menilai bahwa penerapan teknologi seperti metal detector, face recognition, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi langkah penting dalam menjaga transparansi dan keadilan sistem seleksi nasional.
Dengan berbagai temuan tersebut, pelaksanaan UTBK 2026 menjadi perhatian serius dalam upaya memperkuat integritas pendidikan tinggi di Indonesia.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login