Newestindonesia.co.id, Anggota MPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Utut Adianto, menegaskan Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.
Penegasan ini disampaikan menyusul keterlibatan Indonesia dalam forum ekonomi BRICS serta kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat yang belakangan menjadi sorotan publik.
Menurut Utut, langkah Indonesia bergabung dengan BRICS bukan bentuk keberpihakan geopolitik, melainkan strategi memperluas peluang ekonomi nasional di tengah persaingan global.
“Tujuan utama kita adalah memperluas pasar dan memperkuat ekonomi. Ini bukan soal berpihak, tetapi bagaimana Indonesia bisa mengambil manfaat di tengah percaturan global,” ujar Utut dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4/2026).
Ia menilai, keanggotaan dalam BRICS memberikan peluang besar karena negara-negara yang tergabung mencakup populasi dunia dalam jumlah signifikan.
Tegaskan Tidak Masuk Aliansi Militer
Utut juga menepis kekhawatiran bahwa keterlibatan Indonesia dalam berbagai kerja sama internasional akan menyeret negara ke dalam blok kekuatan tertentu.
Ia menegaskan, Indonesia tetap konsisten dengan prinsip bebas aktif dan tidak akan bergabung dalam aliansi militer mana pun.
“Kita tetap bebas aktif. Tidak masuk aliansi militer,” kata Utut.
“Justru ini menjadi nilai tambah karena kita bisa bersahabat dengan semua pihak,” lanjutnya.
Menurutnya, posisi netral tersebut justru memperkuat diplomasi Indonesia karena membuka ruang kerja sama dengan berbagai negara tanpa terikat kepentingan blok tertentu.
Kerja Sama Pertahanan dengan AS Tidak Ganggu Kedaulatan
Terkait kerja sama pertahanan Indonesia dengan Amerika Serikat yang ditandatangani di Pentagon pada 13 April 2026, Utut memastikan tidak ada pelanggaran terhadap kedaulatan negara.
Ia secara tegas membantah isu yang menyebut adanya pemberian akses bebas wilayah udara Indonesia kepada pihak asing.
“Kedaulatan udara tetap mutlak. Tidak ada itu akses bebas,” tegas Utut.
“Semua tetap harus melalui izin sesuai aturan yang berlaku,” lanjutnya.
Utut menjelaskan, kerja sama tersebut difokuskan pada peningkatan kapasitas pertahanan nasional, meliputi:
- modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) dan transfer teknologi
- pendidikan militer profesional
- peningkatan interoperabilitas melalui latihan bersama seperti Super Garuda Shield
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan tanpa mengorbankan prinsip kedaulatan.
Respons Soal Kapal Militer AS di Selat Malaka
Menanggapi kekhawatiran publik terkait keberadaan kapal militer Amerika Serikat di Selat Malaka, Utut meminta agar hal tersebut tidak disikapi secara berlebihan.
Ia menegaskan selama aktivitas tersebut tidak melanggar aturan internasional dan kedaulatan Indonesia, maka tidak perlu menjadi sumber kekhawatiran.
Pandangan ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia yang tidak memusuhi negara mana pun dalam hubungan internasional.
Bebas Aktif Jadi Strategi di Tengah Geopolitik Global
Dalam konteks global yang semakin dinamis, Utut menilai politik luar negeri bebas aktif tetap relevan sebagai strategi utama Indonesia.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dapat:
- menjaga kemandirian politik luar negeri
- memperluas kerja sama ekonomi
- memperkuat pertahanan tanpa terikat aliansi
Pendekatan ini juga dinilai memberikan fleksibilitas bagi Indonesia untuk beradaptasi dengan perubahan konstelasi global yang cepat.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login