Newestindonesia.co.id, CEO Citadel, Ken Griffin, memperingatkan bahwa dunia berpotensi masuk ke jurang resesi apabila jalur energi vital global, Selat Hormuz, tetap ditutup dalam jangka waktu lama.
Pernyataan tersebut disampaikan Griffin di forum ekonomi global Semafor, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya.
“Jika Selat Hormuz ditutup selama enam hingga 12 bulan ke depan, dunia akan berakhir dalam resesi. Tidak ada cara untuk menghindarinya,” kata Griffin dalam pernyataannya.
Dilansir melalui CNBC (15/4), Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di wilayah ini telah memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Dampak Langsung: Lonjakan Harga Energi
Penutupan atau pembatasan akses Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam, bahkan sempat menembus di atas US$100 per barel.
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut Griffin sebagai “shock harga energi klasik”, yang berpotensi menekan inflasi dan daya beli secara global.
Menurutnya, dampak terbesar akan dirasakan oleh negara-negara di Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.
Risiko Global: Dari Inflasi ke Resesi
Griffin menekankan bahwa krisis ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan ancaman sistemik terhadap ekonomi dunia.
Ia menilai, meskipun Amerika Serikat relatif lebih terlindungi karena produksi energinya sendiri, negara lain akan menghadapi tekanan berat akibat kenaikan biaya energi dan gangguan pasokan.
Jika kondisi ini berlangsung lama, kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi bisa mendorong dunia menuju resesi global.
Investor Dinilai Tidak Siap
Dalam kesempatan yang sama, Griffin juga menyoroti bahwa banyak investor global tidak siap menghadapi eskalasi konflik dan ketahanan Iran dalam menghadapi tekanan militer.
Ia menyebut pasar sempat “terkejut” oleh perkembangan situasi, meskipun beberapa hedge fund mampu mengelola volatilitas dengan cukup baik.
Konteks: Krisis Energi Terbesar dalam Sejarah Modern
Krisis di Selat Hormuz saat ini disebut sebagai salah satu gangguan terbesar terhadap pasokan energi global dalam sejarah modern.
Sejak konflik meningkat pada awal 2026, lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut sempat turun drastis hingga hampir nol, memicu lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok global.
Situasi ini mengingatkan pada krisis energi era 1970-an, namun dengan dampak yang lebih luas karena keterkaitan ekonomi global saat ini.
Arah ke Depan: Ketidakpastian Tinggi
Griffin menegaskan bahwa arah ekonomi global kini sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait pembukaan kembali jalur perdagangan energi tersebut.
Ia juga menyoroti bahwa krisis ini bisa mempercepat transisi ke energi alternatif, seiring meningkatnya tekanan terhadap pasokan bahan bakar fosil.
Namun dalam jangka pendek, dunia dinilai harus bersiap menghadapi volatilitas tinggi, inflasi, dan potensi perlambatan ekonomi yang lebih dalam.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login