AS dan Iran Kembali Bersitegang, Radar Pantai Iran Diserang Setelah Peluncuran Drone
Sebuah jet tempur AS lepas landas dari kapal induk AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran (dok. U.S. Navy/Handout via REUTERS)
Newestindonesia.co.id, Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS mengklaim menembak jatuh empat drone serang yang diluncurkan Iran ke arah Selat Hormuz. Sebagai respons, pasukan AS melancarkan serangan terhadap instalasi radar milik Iran yang berada di kawasan pantai selatan negara tersebut.
Insiden terbaru ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia yang menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, menyatakan bahwa empat drone serang satu arah yang diluncurkan Iran menuju Selat Hormuz berhasil dicegat sebelum mencapai targetnya. Menurut militer AS, drone-drone tersebut dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan resminya seperti dilansir melalui AFP (6/6/2026), CENTCOM mengatakan:
“Drone-drone serang itu menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional.”
Setelah operasi pencegatan tersebut, militer AS melanjutkan aksi dengan menyerang fasilitas radar pengintaian pantai Iran yang berada di wilayah Goruk dan Pulau Qeshm. Washington menyebut langkah itu sebagai tindakan defensif untuk mencegah ancaman lebih lanjut terhadap jalur pelayaran internasional.
CENTCOM menjelaskan bahwa serangan terhadap fasilitas radar dilakukan guna:
“mencegah serangan-serangan lebih lanjut”.
Radar Pantai Iran Jadi Sasaran
Menurut keterangan militer AS, fasilitas yang menjadi target merupakan radar pengawasan pantai yang digunakan untuk memantau aktivitas maritim di sekitar Selat Hormuz. Lokasi yang diserang berada di Goruk dan Pulau Qeshm, wilayah strategis Iran yang menghadap langsung ke jalur pelayaran internasional tersebut.
Selat Hormuz selama ini menjadi titik sensitif dalam dinamika keamanan global karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasi kawasan tersebut. Setiap gangguan keamanan di wilayah ini berpotensi memengaruhi harga energi dan stabilitas ekonomi global.
Iran Belum Beri Respons Resmi
Hingga Sabtu (6/6), pemerintah Iran maupun Garda Revolusi Iran belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait klaim serangan yang disampaikan militer AS.
Namun, media penyiaran pemerintah Iran, IRIB, melaporkan adanya suara ledakan di wilayah Sirik, Iran selatan, pada dini hari waktu setempat.
Dalam laporannya, IRIB menyebut:
“sejumlah ledakan terdengar” di area Sirik.
Meski demikian, media tersebut menegaskan belum ada penjelasan resmi mengenai sumber ledakan maupun detail insiden yang terjadi.
IRIB menyatakan:
“Tidak ada sumber resmi yang mengomentari asal suara atau detailnya.”
Gencatan Senjata Kembali Diuji
Peristiwa ini terjadi di tengah situasi yang masih rapuh pasca-gencatan senjata antara Iran dengan kubu AS dan Israel yang diberlakukan sejak 8 April lalu. Gencatan senjata tersebut sebelumnya diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump, namun dalam beberapa pekan terakhir kedua pihak terus saling menuduh melakukan pelanggaran kesepakatan.
Upaya diplomatik yang dimediasi Pakistan juga masih berlangsung, tetapi sejauh ini belum menghasilkan kesepakatan permanen yang mampu mengakhiri konflik secara menyeluruh.
Analis menilai insiden terbaru di Selat Hormuz berpotensi memperumit proses negosiasi dan meningkatkan risiko konfrontasi militer yang lebih luas apabila tidak segera diikuti langkah deeskalasi dari kedua pihak. Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia, setiap peningkatan konflik di kawasan ini akan terus menjadi perhatian komunitas internasional.
(DAW)