Arab Saudi Dan Houthi Kembali Memanas, Saling Lontarkan Ancaman Serangan Militer

pendukung-houthi-turun-ke-jalan-tunjukkan-dukungan-ke-iran-1775483470048_169

Kelompok Houthi di Yaman (Foto: REUTERS/Khaled Abdullah)

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Hubungan antara Arab Saudi dan kelompok milisi Houthi di Yaman kembali berada dalam tensi tinggi. Setelah sempat menikmati masa relatif tenang pasca-gencatan senjata, kedua belah pihak kini terlibat aksi saling ancam untuk melancarkan serangan militer berskala besar.

Ketegangan terbaru ini bermula pada Jumat (3/7/2026), ketika kelompok Houthi secara terbuka mengancam akan menargetkan bandara-bandara serta aset-aset vital di wilayah Arab Saudi. Ancaman tersebut dilayangkan menyusul tuduhan Houthi yang menyebut pihak Saudi berupaya menghalangi jalannya pesawat sipil asal Iran yang hendak mendarat di Yaman.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan dalam sebuah pernyataan video bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran wilayah udara.

“Kami memperingatkan musuh kriminal Saudi agar tidak mengulangi upaya apa pun untuk melanggar wilayah udara kami atau agresi apa pun yang menargetkan negara kami,” kata Yahya Saree dalam pernyataan resminya, sebagaimana dikutip dari Al-Jazeera, Minggu (5/7/2026).

Saree melanjutkan bahwa setiap tindakan provokasi dari pihak Saudi di masa mendatang akan memicu serangan balasan yang masif ke pusat-pusat infrastruktur strategis milik Kerajaan Arab Saudi.

“Tindakan seperti itu akan dibalas dengan respons komprehensif yang menargetkan bandara-bandara dan kepentingan vitalnya di darat dan laut,” cetus Saree menambahkan.

Menurut klaim pihak Houthi, milisi mereka terpaksa mengerahkan rudal pertahanan udara guna menghalau jet tempur Arab Saudi yang mencoba mengadang pesawat sipil Iran di Bandara Internasional Sanaa. Diinformasikan, pesawat Iran tersebut tengah mengangkut lebih dari 200 pasien serta delegasi Houthi yang hendak bertolak ke Teheran guna menghadiri upacara pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Respons Keras Arab Saudi: Sebut Houthi Ekspor Bencana Ekonomi dan Janjikan Balasan Tanpa Ampun

Merespons ancaman dari kelompok pemberontak tersebut, pihak otoritas Arab Saudi langsung mengeluarkan bantahan sekaligus kecaman keras pada Sabtu (4/7/2026). Riyadh menilai ancaman yang digaungkan oleh Houthi merupakan siasat semata untuk mengalihkan perhatian publik internasional dari krisis domestik di Yaman.

Baca juga:  Trump Optimistis Soal Iran, Tegaskan AS Akan Menyerang Lagi Jika Tak Ada Kesepakatan

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, menegaskan bahwa tuduhan Houthi tersebut tidak berdasar.

“Pernyataan Houthi terhadap Kerajaan kemarin hanyalah upaya untuk mengalihkan perhatian dari pelanggaran berat mereka terhadap rakyat Yaman, di mana mereka mencoba mengekspor bencana ekonomi dan penderitaan Yaman yang telah mereka sebabkan,” tegas Mayor Jenderal Turki al-Malki dalam pernyataan resminya.

Al-Malki juga menyatakan bahwa provokasi terbaru ini membuktikan komitmen Houthi yang terus-menerus ingin mengacaukan stabilitas keamanan, tidak hanya di tingkat regional tetapi juga global.

Ia menambahkan bahwa pernyataan kelompok tersebut adalah “perpanjangan dari eskalasi dan perilaku bermusuhan yang ditunjukkan oleh milisi Houthi dan upaya mereka untuk merusak keamanan regional dan internasional.”

Lebih lanjut, Arab Saudi memperingatkan Houthi bahwa setiap tindakan agresif yang diarahkan ke wilayah Kerajaan akan dihadapi dengan kekuatan militer penuh yang belum pernah terjadi sebelumnya demi melindungi kedaulatan sekutu mereka di Yaman.

Al-Malki berjanji akan memberikan respons “dengan tekad dan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap setiap upaya untuk menargetkan Kerajaan, warga negara dan penduduknya, serta aset nasional, atau setiap upaya untuk melanggar kedaulatan Republik Yaman.”

Latar Belakang Konflik Berdarah Yaman yang Kembali Diambang Eskalasi

Eskalasi verbal ini mengancam keberlangsungan situasi kondusif yang telah terbangun di Yaman selama beberapa tahun terakhir. Diketahui, pertempuran bersenjata antara kedua belah pihak sebagian besar telah berhenti sejak adanya gencatan senjata yang dinegosiasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2022 lalu.

Konflik berkepanjangan ini sendiri bermula sejak tahun 2015, mempertemukan kelompok pemberontak Houthi dengan pemerintah Yaman yang sah. Perang saudara ini telah menewaskan ratusan ribu orang dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Baca juga:  Komandan Kunci Selat Hormuz Tewas, Trump Tekan Iran Segera Hentikan Konflik

Hingga saat ini, peta geopolitik Yaman masih terbelah. Pemberontak Houthi, yang mendapatkan dukungan dari Iran, berhasil menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, beserta sebagian besar wilayah utara yang menjadi pusat populasi utama. Di sisi lain, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dengan sokongan penuh dari koalisi militer pimpinan Arab Saudi, memegang kendali atas sebagian besar wilayah selatan negara tersebut.

Dengan munculnya aksi saling ancam ini, publik internasional kini khawatir perang terbuka dapat kembali pecah dan memperburuk penderitaan warga sipil di Yaman.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement