Krisis Retensi Pekerja Terampil: Alasan Tersembunyi Migran Memilih Angkat Kaki Dari Jerman

kenapa-tenaga-kerja-asing-ramai-ramai-tinggalkan-jerman-1783131681420

Foto: Dok. DW

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Keberhasilan mengelola arus imigrasi tidak hanya terletak pada kemampuan mendatangkan tenaga kerja asing, melainkan juga pada bagaimana cara mempertahankan mereka dalam jangka panjang. Hal tersebut menjadi sorotan utama dari hasil penelitian terbaru yang dirilis oleh Institut Penelitian Pasar Kerja (IAB) di Berlin.

Dilansir melalui DW, Laura Goner, peneliti dari IAB, memaparkan kesimpulan yang terdengar sederhana namun krusial bagi masa depan pasar kerja Jerman. “Siapa pun yang ingin mengelola imigrasi secara berhasil juga harus memahami mengapa orang memilih pergi,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers di Berlin.

Menurut Goner, fokus utama pemerintah seharusnya adalah menciptakan iklim yang membuat para pekerja migran bertahan.

“Intinya adalah membuat mereka bertahan dalam jangka panjang melalui kesempatan yang adil, prosedur yang dapat diandalkan, dukungan yang memadai, serta lingkungan yang memungkinkan mereka membangun masa depan,” imbuh sang peneliti, dikutip melalui DW.

Alasan Utama Eksodus Tenaga Kerja Asing

Dalam studi tersebut, IAB melakukan survei daring terhadap pendatang berusia 18 hingga 65 tahun yang bermigrasi ke Jerman hingga April 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa keputusan untuk meninggalkan Jerman tidak didorong oleh faktor tunggal.

Selain alasan keluarga yang kerap menjadi penyebab utama, pengalaman menghadapi diskriminasi juga banyak dikeluhkan oleh para imigran. Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor krusial yang sebenarnya dapat diatasi melalui intervensi kebijakan pemerintah, seperti masalah birokrasi, ketersediaan perumahan, hingga program pembelajaran bahasa.

Pakar IAB, Theresa Koch, mengidentifikasi karakteristik kelompok yang paling sering memilih angkat kaki dari Jerman. “Rata-rata mereka yang bermigrasi keluar berusia lebih muda. Mereka tinggal lebih singkat di Jerman, atau biasanya memiliki pasangan dan anak yang menetap di luar negeri. Mereka juga kurang menguasai bahasa Jerman, tetapi memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik,” kata Koch.

Baca juga:  Geger Di Jepang, WNI Bunuh Rekan Senegara Di Tengah Jalan, Polisi Ikut Jadi Korban

Riset tersebut mencatat sekitar 60 persen migran memilih kembali ke negara asal mereka. Sementara itu, 40 persen sisanya memutuskan pindah ke negara ketiga, dengan tujuan populer seperti Spanyol, Swiss, Italia, dan Kroasia.

“Kita bersaing dengan negara-negara Eropa lain dalam memperebutkan tenaga kerja terampil,” ujar Yuliya Kosyakova, Kepala Divisi Riset Migrasi, Integrasi, dan Pasar Kerja Internasional di IAB, memperingatkan posisi Jerman di pasar global.

Birokrasi yang Menyulitkan dan Rasa “Tidak Diterima”

Keluhan yang paling sering disuarakan oleh kaum migran berpusar pada lambatnya proses administrasi negara. Mulai dari pengurusan kewarganegaraan, perpanjangan izin tinggal, visa, hingga proses pengakuan ijazah luar negeri yang berbelit-belit. Biaya administrasi yang mahal serta minimnya dukungan pengembangan karier dari pemerintah maupun perusahaan turut memperparah keadaan. Bahkan, rasisme dan diskriminasi tidak jarang dilaporkan terjadi langsung di kantor-kantor pemerintahan.

Menurut Laura Goner, ruwetnya birokrasi ini berdampak buruk secara psikologis dan praktis. Hambatan tersebut menyulitkan pekerja asing melakukan perencanaan jangka panjang, menghambat akses kerja, dan mengikis rasa kepemilikan mereka terhadap Jerman.

“Jika prosedur dianggap berlarut-larut, sulit dipahami, atau sulit diakses, hal itu dapat memengaruhi keputusan mereka untuk tetap tinggal,” jelas Goner. “Kami melihat bahwa para pendatang yang memiliki pengalaman lebih buruk terhadap prosedur tersebut rata-rata juga lebih jarang merasa diterima di Jerman.”

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement