Alasan Nusron Wahid Sesalkan Aksi Mahasiswa Geruduk Diskusi Pejabat Di UGM

menteri-agraria-dan-tata-ruangkepala-badan-pertanahan-nasional-atrbpn-nusron-wahid-1771672450386_169

Foto: Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid. (dok Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol Kementerian ATR/BPN)

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid akhirnya buka suara terkait insiden penggerudukan acara diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM) oleh ratusan mahasiswa pada Senin (15/6/2026) malam.

Nusron menegaskan bahwa kehadirannya dalam forum tersebut—bersama Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko dan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono—adalah untuk berdialog langsung dengan sivitas akademika secara legal.

“Kami datang ada panitianya baik-baik, ada surat izin lengkap dari rektorat. Kita siap datang ke situ untuk berdialog dengan siapa saja, dengan sivitas akademika, dengan topik apa pun, karena kami dari pemerintah sudah menyiapkan diri, untuk memang siap untuk di-bully, siap dicaci maki di hadapan siapa pun, karena itulah konsekuensi daripada jabatan,” kata Nusron dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Selasa (16/6/2026).

Menyesalkan Tindakan Non-Demokratis

Nusron menjelaskan, jalannya diskusi di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM awalnya berlangsung kondusif. Namun, situasi berubah ketika muncul kelompok yang menurutnya enggan mengedepankan ruang dialog pemikiran.

“Tapi rupa-rupanya pada malam hari ini, takdir berkata lain. Ada sekelompok orang yang a demokratis, yang ternyata tidak siap berdialog, tidak siap berdemokrasi dan tidak siap untuk menerima dialog pemikiran, yang mengedepankan memaksakan kehendak dan mengedepankan kekerasan, karena itu kami sangat sayangkan,” ujar Nusron.

Ia menekankan bahwa pihak pemerintah membuka diri terhadap segala bentuk koreksi serta masukan yang konstruktif melalui jalur debat ilmiah di lingkungan kampus.

“Forum yang harusnya dialog baik sebagaimana di kampus-kampus yang lain. Tidak ada motivasi untuk mengebiri, tapi kita justru siap dikritik. Kalau memang ada yang salah kita siap mengoreksi, kalau ada masukan kita akan tindak lanjuti. Tapi ternyata digagalkan oleh sekelompok orang itu,” sambungnya.

Baca juga:  Pemerintah Benahi Tata Kelola MBG, Mensesneg: Kekurangan Yang Terjadi Akan Diperbaiki

Di akhir pernyataannya, Nusron mengajak seluruh pihak untuk membangun iklim demokrasi yang sehat tanpa menutup ruang argumentasi berbasis data.

“Saya kira, mari kita tegakkan demokrasi dengan cara yang yang berkeadaban atau civilize. Karena itu ruang diskusi dan ruang untuk berdebat di berbagai forum apa pun tidak boleh ditutup dan dan tidak boleh monolog dengan menciptakan opini tunggal dari kelompok-kelompok tertentu saja. Kami siap melayani berbagai undangan-undangan, kalau ada untuk adu data dan argumentasi. Tapi malam ini sungguh kami sesalkan tapi kami tidak menyesal,” tegasnya.

Kronologi dan Alasan Penggerudukan oleh Mahasiswa

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketegangan di lokasi sempat diwarnai aksi bentang spanduk penolakan oleh sejumlah mahasiswa yang naik ke atas panggung di tengah diskusi. Situasi yang memanas memicu pelemparan gelas plastik hingga memaksa panitia menghentikan acara untuk mengevakuasi ketiga pejabat negara tersebut.

Saat Nusron Wahid dan Sudaryono mencoba keluar dari area GIK UGM, ratusan mahasiswa melakukan penghadangan hingga sempat memicu aksi saling dorong dengan petugas keamanan. Kendati demikian, Nusron dan Sudaryono dilaporkan sempat mencoba berdialog di tengah kepungan massa sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.

Perwakilan Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa, menyatakan bahwa aksi penggerudukan ini merupakan bentuk protes nyata terhadap jalannya roda pemerintahan. Mahasiswa menilai para pejabat tersebut tidak konsisten dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di tengah pembungkaman kritik.

“Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat, program MBG, Kopdes Merah Putih, dan banyak hal yang sekarang terjadi,” pungkas Mesa.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement