Mengenal Bipolar Affective Disorder: Bukan Sekadar Depresi Biasa
Ilustrasi seseorang yang mood-nya berubah - ubah. Foto: iStock/monkeybusinessimages
Newestindonesia.co.id, Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental semakin meningkat. Namun, masih banyak istilah yang sering disalahartikan, salah satunya adalah Bipolar Affective Disorder (BAD) dan depresi. Tidak sedikit orang yang menganggap keduanya merupakan kondisi yang sama karena sama-sama melibatkan perubahan suasana hati atau mood.
Padahal, dari sudut pandang medis, bipolar affective disorder dan depresi merupakan dua gangguan kesehatan mental yang berbeda. Meskipun keduanya dapat menimbulkan gejala kesedihan yang mendalam, terdapat perbedaan mendasar pada pola perubahan suasana hati, diagnosis, hingga metode pengobatannya.
Lalu, apakah bipolar affective disorder sama dengan depresi? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Bipolar Affective Disorder?
Bipolar Affective Disorder atau yang lebih dikenal sebagai gangguan bipolar merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem. Seseorang dapat mengalami periode suasana hati yang sangat tinggi (mania atau hipomania) dan periode suasana hati yang sangat rendah (depresi).
Kondisi ini dahulu dikenal sebagai manic depression atau depresi manik. Saat episode mania terjadi, seseorang bisa merasa sangat berenergi, percaya diri secara berlebihan, berbicara sangat cepat, sulit tidur, hingga melakukan tindakan impulsif yang berisiko. Sebaliknya, saat memasuki fase depresi, individu dapat merasa sedih berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, dan mengalami kelelahan yang signifikan.
Menurut para ahli kesehatan mental, bipolar bukan hanya soal perubahan mood biasa. Gangguan ini dapat memengaruhi hubungan sosial, pekerjaan, pendidikan, dan kualitas hidup seseorang secara keseluruhan.
Apa Itu Depresi?
Depresi atau Major Depressive Disorder (MDD) merupakan gangguan suasana hati yang ditandai oleh perasaan sedih, putus asa, kehilangan minat, dan berkurangnya kemampuan menikmati aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Kondisi ini berlangsung setidaknya dua minggu atau lebih dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Seseorang yang mengalami depresi biasanya menunjukkan berbagai gejala seperti:
- Merasa sedih hampir sepanjang waktu.
- Kehilangan motivasi.
- Sulit berkonsentrasi.
- Gangguan tidur.
- Perubahan nafsu makan.
- Mudah lelah.
- Merasa tidak berharga.
- Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
Berbeda dengan bipolar, penderita depresi tidak mengalami episode mania maupun hipomania. Inilah salah satu pembeda utama antara kedua kondisi tersebut.
Apakah Bipolar Sama dengan Depresi?
Jawabannya adalah tidak.
Bipolar affective disorder dan depresi merupakan dua diagnosis yang berbeda dalam dunia psikiatri. Namun, keduanya memiliki keterkaitan karena penderita bipolar juga dapat mengalami episode depresi.
Perbedaan paling penting adalah keberadaan episode mania atau hipomania pada gangguan bipolar.
Pada depresi mayor, seseorang hanya mengalami fase suasana hati rendah tanpa adanya periode mania. Sementara pada bipolar, individu mengalami siklus antara depresi dan mania atau hipomania.
Karena banyak penderita bipolar pertama kali datang ke tenaga kesehatan saat mengalami depresi, kondisi ini sering kali salah didiagnosis sebagai depresi biasa. Akibatnya, pengobatan yang diberikan mungkin kurang tepat jika episode mania tidak teridentifikasi.
Mengenal Episode Mania dan Hipomania
Salah satu ciri khas gangguan bipolar adalah adanya episode mania atau hipomania.
Mania
Mania merupakan kondisi ketika seseorang mengalami peningkatan energi, aktivitas, dan suasana hati secara berlebihan. Gejala yang sering muncul antara lain:
- Sangat bersemangat.
- Merasa memiliki kemampuan luar biasa.
- Tidur sangat sedikit tetapi tetap merasa segar.
- Berbicara cepat dan terus-menerus.
- Sulit fokus.
- Melakukan tindakan impulsif seperti belanja berlebihan atau investasi berisiko.
Pada kasus yang berat, mania dapat menyebabkan seseorang kehilangan kontak dengan realitas atau mengalami psikosis.
Hipomania
Hipomania merupakan bentuk mania yang lebih ringan. Gejalanya serupa tetapi tidak separah mania dan biasanya tidak sampai menyebabkan gangguan fungsi sosial yang berat atau memerlukan rawat inap.
Meski demikian, hipomania tetap menjadi petunjuk penting dalam diagnosis bipolar.
Mengapa Bipolar Sering Disalahartikan Sebagai Depresi?
Ada beberapa alasan mengapa bipolar sering keliru dianggap sebagai depresi.
1. Episode Depresi Lebih Dominan
Banyak penderita bipolar lebih sering mengalami fase depresi dibandingkan fase mania. Bahkan, beberapa orang tidak menyadari bahwa mereka pernah mengalami hipomania karena merasa kondisi tersebut justru membuat mereka lebih produktif.
2. Mania Tidak Selalu Terlihat Jelas
Tidak semua penderita bipolar mengalami mania berat. Pada bipolar tipe II, yang muncul adalah hipomania sehingga gejalanya lebih sulit dikenali.
3. Gejala Depresi Sangat Mirip
Saat berada dalam fase depresi, penderita bipolar dapat menunjukkan gejala yang hampir identik dengan depresi mayor, seperti sedih berkepanjangan, kehilangan minat, gangguan tidur, dan kelelahan.
Karena itulah evaluasi menyeluruh oleh psikiater sangat penting untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Jenis-Jenis Bipolar Affective Disorder
Secara umum, gangguan bipolar dibagi menjadi beberapa jenis utama.
Bipolar Tipe I
Ditandai dengan adanya episode mania yang berlangsung setidaknya satu minggu atau cukup berat hingga memerlukan perawatan rumah sakit. Episode depresi biasanya juga terjadi.
Bipolar Tipe II
Ditandai oleh kombinasi episode depresi dan hipomania tanpa pernah mengalami mania penuh.
Cyclothymic Disorder
Merupakan bentuk bipolar yang lebih ringan dengan perubahan suasana hati kronis yang berlangsung lama tetapi tidak memenuhi kriteria mania atau depresi berat.
Penyebab Bipolar dan Depresi
Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab tunggal kedua kondisi tersebut. Namun para peneliti meyakini bahwa faktor biologis, genetik, dan lingkungan berperan penting.
Beberapa faktor risiko meliputi:
- Riwayat keluarga dengan gangguan mental.
- Ketidakseimbangan neurotransmiter di otak.
- Trauma masa kecil.
- Stres berat berkepanjangan.
- Penyalahgunaan zat tertentu.
Meskipun memiliki faktor risiko yang mirip, mekanisme biologis bipolar dan depresi tidak sepenuhnya sama.
Bagaimana Diagnosis Dilakukan?
Diagnosis bipolar maupun depresi tidak dapat dilakukan hanya melalui tes darah atau pemeriksaan laboratorium.
Psikiater biasanya melakukan:
- Wawancara klinis mendalam.
- Evaluasi riwayat kesehatan mental.
- Penilaian pola suasana hati.
- Riwayat keluarga.
- Observasi perilaku dan gejala yang dialami pasien.
Dalam banyak kasus, diperlukan waktu untuk memastikan apakah seseorang mengalami depresi mayor atau gangguan bipolar.
Perbedaan Pengobatan Bipolar dan Depresi
Meskipun sama-sama melibatkan gejala depresi, pendekatan pengobatan keduanya berbeda.
Pengobatan Depresi
Terapi yang umum digunakan meliputi:
- Antidepresan.
- Psikoterapi.
- Terapi perilaku kognitif (CBT).
- Perubahan gaya hidup sehat.
Pengobatan Bipolar
Pada bipolar, fokus utama adalah menjaga stabilitas suasana hati.
Terapi yang sering digunakan antara lain:
- Mood stabilizer.
- Obat antipsikotik tertentu.
- Psikoterapi.
- Edukasi kesehatan mental jangka panjang.
Penggunaan antidepresan pada penderita bipolar biasanya harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena dalam kondisi tertentu dapat memicu episode mania. Hal inilah yang membuat diagnosis yang tepat menjadi sangat penting.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Seseorang sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila mengalami:
- Kesedihan berkepanjangan.
- Kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.
- Perubahan mood yang ekstrem.
- Gangguan tidur berat.
- Perilaku impulsif yang tidak biasa.
- Pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup penderita.
Kesimpulan
Bipolar affective disorder tidak sama dengan depresi. Depresi merupakan gangguan suasana hati yang ditandai oleh perasaan sedih dan kehilangan minat secara berkepanjangan, sedangkan bipolar adalah gangguan yang melibatkan perubahan suasana hati ekstrem antara fase depresi dan fase mania atau hipomania.
Kesamaan gejala pada fase depresi sering membuat bipolar sulit dibedakan dari depresi biasa. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh oleh tenaga kesehatan mental sangat diperlukan agar diagnosis dan pengobatan yang diberikan sesuai dengan kondisi yang dialami pasien. Dengan penanganan yang tepat, baik penderita bipolar maupun depresi memiliki peluang besar untuk menjalani kehidupan yang produktif dan berkualitas.
(DAW)