PSI Balas PDIP, Bestari Barus Sebut Sakit Hati Ditinggal Jokowi Sangat Mendalam

bestari-barus-dan-jokowi-1759138047706_169

Bestari Barus (kanan) bersama Jokowi (kiri) (Dok. Istimewa)

Newestindonesia.co.id, Hubungan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan PDI Perjuangan (PDIP) kembali memanas. Adu pernyataan antara kedua partai terkait Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) semakin tajam setelah Ketua DPP PSI Bestari Barus melontarkan kritik keras terhadap pernyataan politikus PDIP Guntur Romli.

Polemik bermula ketika Guntur Romli menegaskan bahwa Jokowi tidak keluar dari PDIP, melainkan dipecat. Pernyataan tersebut kemudian mendapat respons dari Bestari Barus yang menilai komentar tersebut tidak pantas disampaikan oleh kader partai besar.

Bestari mengaku menyayangkan narasi yang dilontarkan Guntur Romli. Menurutnya, kualitas pernyataan tersebut justru menjadi penilaian masyarakat terhadap kualitas pendidikan politik di internal partai.

“Iya, pernyataan seperti itu sebetulnya kan sangat tidak layak keluar dari muncung orang-orang yang menganggap dirinya berada di partai besar, yang pendidikan politiknya bagus. Ternyata hari ini masyarakat Republik Indonesia itu menakar, oh segini cuma hasil yang didapat, kualitas narasi yang bisa disampaikan oleh partai yang menganggap dirinya besar itu, nah itu sangat disayangkan,” kata Bestari Barus, Minggu (14/6/2026) dikutip melalui detikNews.

PSI Sebut PDIP Masih Sakit Hati

Bestari menilai reaksi yang ditunjukkan sejumlah kader PDIP menunjukkan adanya rasa sakit hati yang masih tersimpan sejak Jokowi tidak lagi bersama partai tersebut.

Menurut dia, perasaan tersebut bahkan masih terus terpelihara dan menjadi faktor yang memengaruhi sikap politik sejumlah kader PDIP.

“Tapi memang apa yang beberapa kali saya sampaikan di berbagai kesempatan bahwa memang rasa sakit ditinggal oleh Pak Jokowi itu ya, rasa sakit yang dirasakan karena ditinggal oleh Pak Jokowi itu memang sangat mendalam dan terpelihara itu bertumpuk-tumpuk di dalam hati mereka gitu. Ya perlu pendidikan pendewasaan kembali itu di kurikulum, kalau ada kurikulumnya juga itu partai, supaya bisa kemudian lebih menata diri lebih dewasa di dalam berpolitik,” ucap dia.

Baca juga:  OJK Soroti Praktik Penagihan Solusiku, Minta Penghentian Sementara Terhadap Konsumen Pengadu

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik terbuka PSI terhadap sikap PDIP yang belakangan terus menyinggung hubungan politik dengan Jokowi.

Persoalan Pemecatan Dinilai Hanya Mekanisme

Lebih lanjut, Bestari menegaskan dirinya tidak terlalu mempermasalahkan apakah Jokowi, Gibran Rakabuming Raka maupun Bobby Nasution dipecat dari PDIP atau tidak. Baginya, hal itu hanya merupakan bagian dari mekanisme organisasi partai.

“Terus masalah Pak Jokowi dipecat, Gibran dipecat, atau lagi Bobby dipecat, ya mekanisme saja itu sih. Tapi saya meyakini seribu persen bahkan bahwa betapa bahagianya rakyat Indonesia ini yang melihat Pak Jokowi itu keluar ataupun dalam prosesnya itu adalah dikeluarkan oleh PDIP,” jelas dia.

Menurut Bestari, banyak masyarakat justru melihat Jokowi tidak memperoleh penghormatan yang layak ketika masih berada di PDIP. Ia pun menyinggung berbagai perlakuan yang menurutnya diterima Jokowi di hadapan publik.

“Karena mereka melihat Pak Jokowi itu dikuyu-kuyu, dibilang mentang-mentang, dijadikan objek selfie, duduk di kursi yang wah seperti apa kita lihat gitu kan di depan orang ramai gitu. Mentang-mentang lho, apa segala macam. Apakah itu yang dikatakan diberikan kehormatan?” lanjut dia.

Polemik PSI dan PDIP Kembali Menghangat

Perseteruan antara PSI dan PDIP dalam beberapa waktu terakhir memang kembali menjadi sorotan. Hubungan kedua partai semakin tegang setelah muncul berbagai pernyataan yang berkaitan dengan posisi politik Jokowi pasca tidak lagi berada di PDIP.

Di tengah menghangatnya situasi tersebut, pernyataan Bestari Barus menunjukkan bahwa ketegangan antara PSI dan PDIP belum mereda. Adu narasi antara kedua kubu diperkirakan masih akan berlanjut seiring dinamika politik nasional yang terus berkembang.

Polemik ini sekaligus memperlihatkan bahwa nama Joko Widodo masih menjadi faktor penting dalam peta politik nasional, terutama dalam hubungan antara PDIP sebagai partai yang pernah mengusungnya dan PSI yang belakangan semakin dekat dengan mantan Presiden RI tersebut.

(DAW)