Newestindonesia.co.id, Rusia melancarkan serangan besar-besaran menggunakan drone dan rudal ke wilayah sipil Ukraina, menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan ini dinilai sebagai indikasi awal ofensif militer Rusia yang diperkirakan akan meningkat pada musim semi tahun ini.
Serangan udara tersebut menghantam sejumlah kota di Ukraina, termasuk wilayah strategis dan pusat populasi, dengan dampak signifikan terhadap warga sipil. Total korban luka dilaporkan mencapai sedikitnya 46 orang, termasuk anak-anak.
Selain serangan udara, pasukan Rusia juga meningkatkan tekanan di garis depan sepanjang sekitar 1.250 kilometer di wilayah timur dan selatan Ukraina.
Intensitas Pertempuran Meningkat
Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, menyatakan bahwa pasukan Rusia melakukan ratusan serangan dalam beberapa hari terakhir sebagai upaya menembus pertahanan Ukraina.
“Pertempuran sengit terjadi di sepanjang garis kontak,” kata Syrskyi dikutip melalui Associated Press, Rabu 25 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa Rusia telah melancarkan 619 serangan dalam empat hari, menunjukkan eskalasi signifikan dalam operasi militer mereka.
Menurut lembaga pemikir berbasis di Washington, Institute for the Study of War, intensifikasi ini memperkuat indikasi bahwa ofensif musim semi Rusia memang telah dimulai.
Situasi Garis Depan: Tegang Namun Terkendali
Seorang tentara Ukraina di wilayah Lyman, yang menjadi salah satu target strategis Rusia, mengatakan bahwa serangan Rusia meningkat drastis, tetapi belum berhasil menembus pertahanan.
“Situasinya tegang, tetapi belum kritis,” ujar seorang prajurit dengan nama sandi “King”.
Pasukan Ukraina dilaporkan berhasil menahan gelombang awal serangan dan menghancurkan sejumlah kendaraan tempur serta personel Rusia.
Ukraina Andalkan Drone untuk Bertahan
Di tengah keterbatasan jumlah personel, Ukraina kini semakin mengandalkan teknologi drone untuk menyeimbangkan kekuatan militer Rusia yang lebih besar.
Selain digunakan untuk pertahanan, Ukraina juga mengembangkan drone jarak jauh produksi dalam negeri untuk menyerang target di wilayah Rusia.
Pemerintah di Kyiv bahkan membuka peluang kerja sama dengan negara-negara Barat dan Teluk dengan menawarkan teknologi drone sebagai imbalan atas sistem pertahanan udara seperti rudal Patriot.
Serangan ke Wilayah Rusia
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim berhasil mencegat puluhan drone Ukraina yang menargetkan wilayah Rusia, termasuk Krimea dan Laut Hitam.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun ini kini memasuki fase baru dengan eskalasi yang semakin intens, terutama seiring membaiknya kondisi cuaca yang mendukung operasi militer skala besar.
Serangan terbaru ini menandai perubahan strategi Rusia yang tidak hanya fokus pada infrastruktur militer, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap wilayah sipil.
Kondisi ini berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan, sekaligus memperpanjang konflik yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login