Arti Pelari ‘Culture’ Yang Viral Di Media Sosial, Ini Makna Dan Fenomena di Baliknya

Happy athletic couple having fun while running together in nature. Copy space.

Ilustrasi pelari kalcer. Foto: iStock/Drazen Zigic

Newestindonesia.co.id, Istilah “pelari culture” atau yang lebih populer disebut “pelari kalcer” belakangan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram hingga X. Unggahan para pelari dengan pakaian olahraga yang stylish, sepatu keluaran terbaru, serta berbagai aksesori pendukung membuat istilah tersebut semakin dikenal luas.

Tak sedikit pengguna media sosial yang penasaran dengan arti sebenarnya dari istilah tersebut. Sebagian menganggapnya sekadar candaan, sementara yang lain melihatnya sebagai bagian dari tren gaya hidup sehat yang berkembang di kalangan masyarakat urban.

Lantas, apa sebenarnya arti pelari culture?

Apa Arti Pelari Culture?

Secara harfiah, kata “culture” berasal dari bahasa Inggris yang berarti budaya. Namun dalam penggunaan sehari-hari di media sosial Indonesia, kata tersebut sering diplesetkan menjadi “kalcer” untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap keren, kekinian, atau mengikuti tren.

Istilah “pelari culture” kemudian merujuk pada individu atau kelompok yang menjadikan aktivitas lari bukan hanya sebagai olahraga, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan identitas sosial. Mereka umumnya sangat memperhatikan penampilan, perlengkapan, hingga dokumentasi aktivitas lari di media sosial.

Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya popularitas olahraga lari dalam beberapa tahun terakhir.

Bukan Sekadar Olahraga

Jika dahulu lari identik dengan aktivitas kebugaran sederhana, kini olahraga tersebut telah mengalami transformasi menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Penelitian yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah Multidisipliner (JIMU) menyebut bahwa fenomena pelari kalcer merupakan representasi identitas sosial baru di masyarakat urban. Aktivitas lari tidak lagi semata-mata bertujuan menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi sarana ekspresi diri dan pencarian eksistensi di ruang digital.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial membuat aktivitas olahraga semakin erat dengan pembentukan citra diri.

Platform seperti Instagram, TikTok dan Strava memungkinkan seseorang membagikan pencapaian, rute lari, hingga penampilan mereka kepada publik.

Mengapa Pelari Culture Menjadi Viral?

Ada beberapa faktor yang membuat istilah ini begitu populer.

Baca juga:  Pria Cilacap Bunuh Wanita Di Hotel Usai Berhubungan 3 Kali, Berawal Kenal Lewat TikTok

1. Tren Gaya Hidup Sehat

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan meningkat signifikan. Banyak orang mulai rutin berolahraga, dan lari menjadi salah satu pilihan karena mudah dilakukan dan tidak memerlukan fasilitas khusus.

2. Pengaruh Media Sosial

Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk tren. Foto dan video aktivitas lari yang menarik membuat semakin banyak orang tertarik mencoba olahraga tersebut.

3. Munculnya Komunitas Lari

Banyak komunitas lari bermunculan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya hingga Yogyakarta. Kehadiran komunitas ini membuat olahraga lari menjadi lebih menyenangkan karena dilakukan secara bersama-sama.

4. Maraknya Event Lari

Fun run, marathon, half marathon hingga berbagai ajang lari lainnya semakin banyak digelar. Event tersebut menjadi ruang bagi para pelari untuk berkumpul sekaligus menunjukkan gaya mereka.

Ciri-Ciri Pelari Culture

Meski tidak ada definisi baku, sejumlah karakteristik sering dikaitkan dengan pelari culture.

Memiliki Outfit yang Stylish

Pelari culture dikenal sangat memperhatikan penampilan. Mereka biasanya menggunakan pakaian olahraga dengan desain menarik dan warna mencolok.

Selain nyaman digunakan, outfit tersebut juga mendukung tampilan yang lebih estetik ketika diabadikan dalam foto atau video.

Menggunakan Sepatu Lari yang Sedang Tren

Sepatu menjadi salah satu elemen penting dalam dunia pelari culture.

Banyak pelari memilih menggunakan sepatu keluaran terbaru atau model yang sedang populer di kalangan komunitas lari. Namun para ahli mengingatkan bahwa pemilihan sepatu sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan, bukan semata mengikuti tren.

Memakai Smartwatch

Jam tangan pintar atau smartwatch juga menjadi perlengkapan yang hampir selalu digunakan.

Perangkat tersebut berfungsi memantau detak jantung, kecepatan lari, jarak tempuh hingga kalori yang terbakar. Selain mendukung performa, smartwatch juga dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Aktif di Media Sosial

Pelari culture identik dengan unggahan hasil latihan atau pencapaian mereka di media sosial.

Baca juga:  Potret Elegan Peggita Chelsea, Istri Muda Dari Anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih

Mulai dari tangkapan layar aplikasi Strava, foto setelah menyelesaikan race, hingga video aktivitas lari sering dibagikan kepada para pengikut mereka.

Gemar Mengikuti Event Lari

Berbagai ajang lari seperti 5K, 10K, half marathon hingga marathon menjadi bagian dari aktivitas yang digemari pelari culture.

Selain untuk mengukur kemampuan, event tersebut juga menjadi sarana bersosialisasi dan memperluas jaringan pertemanan.

Istilah yang Awalnya Bernada Guyonan

Menariknya, istilah pelari kalcer pada awalnya lebih banyak digunakan sebagai candaan di media sosial.

Sebutan tersebut sering diberikan kepada pelari yang terlihat lebih fokus pada penampilan dibandingkan performa lari mereka.

Namun seiring waktu, istilah tersebut justru berkembang menjadi identitas yang diterima oleh banyak orang.

Bahkan sejumlah pengguna media sosial dengan bangga menyebut diri mereka sebagai pelari kalcer.

Pelari Culture dan Fenomena Identitas Sosial

Dalam kajian akademis, fenomena ini dipandang sebagai bagian dari pembentukan identitas sosial masyarakat modern.

Penelitian dari Universitas Negeri Medan menjelaskan bahwa aktivitas lari telah menjadi simbol gaya hidup yang menggabungkan kesehatan, estetika tubuh dan status sosial.

Seseorang tidak hanya menunjukkan kemampuan fisiknya, tetapi juga membangun citra diri melalui perlengkapan olahraga, komunitas yang diikuti, serta eksistensi di media sosial.

Media Sosial Memegang Peranan Penting

TikTok dan Instagram menjadi dua platform yang paling banyak digunakan para pelari untuk berbagi aktivitas mereka.

Konten seperti:

  • Outfit of the day (OOTD) saat lari;
  • Persiapan mengikuti race;
  • Review sepatu dan perlengkapan;
  • Statistik hasil latihan;
  • Video perjalanan menuju garis finis;

menjadi jenis konten yang banyak diminati.

Media sosial pada akhirnya membuat olahraga lari semakin dekat dengan budaya populer.

Sisi Positif Pelari Culture

Fenomena ini tidak selalu dipandang negatif.

Sebaliknya, banyak pihak menilai tren tersebut memiliki sejumlah dampak positif.

Mendorong Masyarakat Berolahraga

Semakin banyak orang yang mulai aktif bergerak dan menjaga kesehatan.

Membentuk Komunitas Positif

Komunitas lari menghadirkan ruang interaksi sosial yang sehat dan produktif.

Baca juga:  Bentuk Telinga Ternyata Ungkap Karakter, Ini Penjelasan Lengkapnya

Menggerakkan Perekonomian

Industri olahraga turut berkembang melalui meningkatnya permintaan sepatu lari, pakaian olahraga, aksesori hingga penyelenggaraan berbagai event lari.

Memperkuat Pariwisata

Banyak daerah mulai menggelar event lari yang mampu mendatangkan peserta dari berbagai wilayah.

Ada Pula Sisi Negatifnya

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai fenomena pelari culture berpotensi memunculkan budaya konsumtif.

Keinginan untuk selalu mengikuti tren dapat membuat seseorang membeli perlengkapan mahal meski sebenarnya belum diperlukan.

Selain itu, sebagian orang terkadang lebih fokus pada dokumentasi dan penampilan dibandingkan tujuan utama olahraga, yakni menjaga kesehatan.

Tidak Ada yang Salah Menjadi Pelari Culture

Terlepas dari berbagai pandangan tersebut, banyak pihak sepakat bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi pelari culture.

Selama aktivitas tersebut mendorong gaya hidup sehat dan dilakukan secara bijak, tren tersebut justru dapat memberikan manfaat positif.

Penampilan yang menarik, penggunaan teknologi, serta keaktifan di media sosial hanyalah bagian dari cara seseorang mengekspresikan diri.

Yang paling penting, olahraga lari tetap dilakukan secara konsisten dan sesuai kemampuan tubuh masing-masing.

Kesimpulan

Istilah pelari culture atau pelari kalcer merupakan sebutan bagi orang-orang yang menjadikan aktivitas lari sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan olahraga, tetapi juga identitas sosial, komunitas, teknologi dan budaya digital yang berkembang di tengah masyarakat.

Popularitasnya yang semakin meningkat menunjukkan bahwa olahraga kini telah bertransformasi menjadi bagian dari ekspresi diri dan gaya hidup masyarakat urban.

Pada akhirnya, baik disebut pelari biasa maupun pelari culture, tujuan utamanya tetap sama, yakni menjaga kesehatan dan menikmati setiap langkah yang ditempuh.

(DAW)