Newestindonesia.co.id, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat pelestarian kawasan Candi Borobudur sebagai warisan budaya hidup atau living heritage. Penegasan itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjelang perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2026.
Dalam agenda tersebut, Menbud meninjau kesiapan Vihara Mendut yang berada dalam satu kawasan dengan Candi Mendut. Kunjungan dilakukan bersama Bhante Pannavaro Mahathera untuk mempererat kebersamaan sekaligus memperkuat pelestarian warisan budaya dan spiritual bangsa.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menyampaikan bahwa Vihara Mendut memiliki nilai sejarah yang penting bagi perkembangan umat Buddha di Indonesia. Ia menuturkan bahwa vihara tersebut kini genap berusia 50 tahun sejak dibangun pada 1976.
“Vihara ini dibangun pada tahun 1976, dan pada 2026 ini tepat berusia 50 tahun. Saya mengapresiasi peran Bhante Pannavaro yang sejak awal telah menjadi pemimpin umat di vihara ini, sekaligus menyaksikan perkembangan dan menjaga nilai-nilai luhur yang ada,” ujar Fadli Zon.
Selain meninjau persiapan Waisak, Menbud juga berdialog mengenai nilai-nilai ajaran Buddha serta simbol-simbol spiritual yang terdapat di kawasan suci Borobudur. Salah satu pembahasan yang menjadi perhatian adalah keberadaan Chattra yang dinilai memiliki makna penghormatan, perlindungan, dan amalan tertinggi bagi umat Buddha.
Fadli Zon menekankan bahwa penguatan narasi living heritage menjadi langkah penting agar Borobudur tidak hanya dipandang sebagai objek wisata atau monumen sejarah semata, tetapi juga sebagai pusat spiritual dan kebudayaan yang terus hidup di tengah masyarakat.
“Di relief Candi Borobudur, jumlahnya sangat banyak. Ini selaras dengan aspirasi kita menjadikan Borobudur sebagai living heritage yang harus direalisasikan, tentu dengan dukungan organisasi-organisasi Buddha dan masyarakat luas,” kata Fadli Zon.
Konsep living heritage sendiri mengedepankan pelestarian warisan budaya yang tetap terhubung dengan kehidupan masyarakat modern. Pemerintah ingin memastikan nilai-nilai filosofis, spiritual, dan budaya yang terkandung dalam Borobudur terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan juga telah memperkuat narasi living heritage dalam rangka mendukung pelaksanaan Waisak 2026 di kawasan Borobudur. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan dokumentasi budaya, digitalisasi arsip, hingga revitalisasi kawasan budaya di sekitar Borobudur.
Tak hanya itu, berbagai agenda budaya juga digelar di kawasan Borobudur sepanjang 2026, termasuk Kirab Pusaka Nusantara serta ritual pemindahan Arca Unfinished Buddha atau “Mbah Bhelet”. Kegiatan tersebut disebut sebagai bagian dari strategi memperkuat pelestarian kawasan Borobudur sebagai warisan budaya dunia yang hidup dan berkelanjutan.
Pemerintah berharap kolaborasi antara negara, tokoh agama, komunitas budaya, dan masyarakat luas dapat menjaga keberlanjutan Borobudur sebagai simbol peradaban, toleransi, dan spiritualitas Indonesia di mata dunia.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


