Indonesia Dan China Didorong Tingkatkan Kolaborasi Teknologi Kesehatan, Bamsoet Soroti Inovasi Medis

anggota-dpr-ri-bambang-soesatyo-1782216179073_169

Foto: Dok. Istimewa

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, mendorong peningkatan kerja sama antara Indonesia dan China di bidang teknologi kesehatan. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional sekaligus memperkuat kapasitas riset dan inovasi kesehatan Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan yang lebih cepat, akurat, dan terjangkau.

Fokus kerja sama diarahkan pada pengembangan digitalisasi layanan kesehatan, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), telemedicine, hingga penguasaan teknologi alat kesehatan mutakhir. Gagasan tersebut disampaikan Bamsoet saat menerima Chairman Yunkang Group China, Zhang Yong, di Jakarta.

Indonesia Harus Kuasai Teknologi, Bukan Sekadar Menjadi Pasar

Menurut Bamsoet, kerja sama internasional di bidang kesehatan harus memberikan manfaat strategis bagi Indonesia, terutama melalui transfer pengetahuan dan teknologi yang mampu meningkatkan daya saing nasional.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi kesehatan negara maju. Kerjasama dengan negara lain harus diarahkan sebagai sarana transfer knowledge, transfer teknologi, dan transfer pengalaman agar tenaga kesehatan, peneliti, perguruan tinggi, serta industri alat kesehatan nasional mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju,” ujar Bamsoet.

Ia menilai langkah tersebut menjadi bagian penting dalam upaya membangun kemandirian sektor kesehatan nasional di tengah perkembangan teknologi medis global yang berlangsung sangat cepat.

China Dinilai Berhasil Integrasikan AI dalam Layanan Kesehatan

Bamsoet menjelaskan bahwa dalam satu dekade terakhir China menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengembangan teknologi kesehatan. Negeri Tirai Bambu tersebut telah mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam berbagai aspek layanan kesehatan, mulai dari sistem diagnosis medis, analisis radiologi, pemantauan kesehatan berbasis data, hingga layanan kesehatan primer di berbagai wilayah.

Menurutnya, perkembangan tersebut sejalan dengan agenda transformasi kesehatan Indonesia yang saat ini tengah mendorong pengembangan ekosistem AI kesehatan melalui berbagai program inovasi nasional.

Baca juga:  Tanggal Cuti Bersama Tahun 2026: Daftar Lengkap & Tips Manfaatkan Libur Panjang

Penguatan SDM Jadi Prioritas Utama

Lebih lanjut, Bamsoet menegaskan bahwa kerja sama dengan China tidak boleh hanya berorientasi pada pembelian perangkat atau teknologi kesehatan. Yang lebih penting adalah penguasaan ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi pengembangan teknologi tersebut.

“Kerja sama dengan China harus diarahkan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia. Yang paling penting bukan sekadar membeli teknologi, melainkan menguasai ilmu pengetahuan di balik teknologi tersebut sehingga kita mampu mengembangkan inovasi sendiri dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor,” kata Bamsoet.

Ia menilai penguatan SDM akan menjadi faktor utama dalam menciptakan ekosistem kesehatan digital yang berkelanjutan dan kompetitif di tingkat global.

Kampus Didorong Menjadi Pusat Inovasi Kesehatan

Bamsoet juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, industri teknologi, dan lembaga penelitian dalam mewujudkan transformasi kesehatan nasional. Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kualitas sinergi antarpemangku kepentingan.

Ia mengungkapkan bahwa sejumlah perguruan tinggi di Indonesia telah menjajaki kerja sama dengan berbagai universitas di China dalam bidang radiologi, informatika rumah sakit, inovasi biomedis, teknologi MRI, hingga pengembangan perangkat lunak kesehatan. Kerja sama tersebut membuka peluang pertukaran mahasiswa, dosen, peneliti, serta pengembangan riset bersama yang lebih aplikatif.

“Perguruan tinggi Indonesia harus mengambil peran lebih besar dalam kolaborasi ini. Kampus tidak cukup menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi pusat lahirnya inovasi baru yang mampu menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia,” pungkas Bamsoet.

Sejalan dengan Agenda Penguatan Hubungan Kesehatan RI-China

Dorongan Bamsoet tersebut sejalan dengan berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat kerja sama kesehatan antara Indonesia dan China. Pemerintah Indonesia sebelumnya juga menekankan pentingnya pengembangan kesehatan digital, AI medis, alih teknologi, serta penguatan industri alat kesehatan dalam negeri dalam berbagai forum bilateral kedua negara.

Baca juga:  Prabowo Tiba Di Sumut, Tinjau Pembangunan Jembatan Bailey Sungai Garoga Di Tapanuli Selatan

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendukung percepatan transformasi kesehatan nasional, meningkatkan kualitas layanan kesehatan, sekaligus memperkuat kemandirian industri kesehatan Indonesia di masa mendatang.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement