Newestindonesia.co.id, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat sebanyak 23 kasus positif hantavirus dalam tiga tahun terakhir di Indonesia. Mayoritas pasien dilaporkan mengalami gejala menyerupai flu, mulai dari demam hingga nyeri otot, sementara tiga pasien lainnya meninggal dunia karena disertai penyakit penyerta.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman mengatakan seluruh kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan jenis Seoul virus, berbeda dengan Andes virus yang belakangan ramai diperbincangkan akibat wabah di kapal pesiar MV Hondius.
“23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal,” ujar Aji seperti dikutip detikHealth, Sabtu (9/5/2025).
Menurut Aji, sebagian besar pasien yang terinfeksi mengeluhkan gejala Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Kondisi tersebut umumnya ditandai dengan demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, hingga gangguan pada ginjal.
Selain itu, pasien juga mengalami keluhan tubuh lemas dan nyeri pada area paha, panggul, serta punggung. Gejala awal hantavirus disebut kerap menyerupai influenza sehingga berpotensi terlambat dikenali.
Kemenkes memastikan sebagian besar pasien kini telah pulih dan kembali beraktivitas normal. Namun, tiga pasien yang meninggal diketahui memiliki riwayat penyakit lain seperti kanker hati dan kegagalan multiorgan.
“Tingkat kematian relatif tinggi tidak hanya disebabkan faktor tunggal, tetapi ada ko-infeksi yang terjadi akibat kanker hati, kegagalan multiorgan,” jelas Aji.
Penularan dari Tikus
Kemenkes menjelaskan hantavirus ditularkan melalui paparan urine, air liur, feses, maupun debu yang terkontaminasi virus dari tikus. Penularan juga bisa terjadi akibat gigitan tikus yang membawa virus.
“Penularan bisa terjadi melalui gigitan, eksresi dan sekresi atau saliva, urine, feses, sampai aerosol penularan dari menghirup debu yang terkontaminasi,” kata Aji.
Aktivitas outdoor seperti mendaki gunung dan berkemah disebut menjadi salah satu faktor risiko tinggi tertular hantavirus. Selain itu, pekerja yang sering berada di lingkungan dengan populasi tikus tinggi juga masuk kelompok rentan.
Kemenkes mengimbau masyarakat mewaspadai area seperti gedung lama, ruang bawah tanah, area terbengkalai, hingga wilayah dengan populasi tikus tinggi.
Sebaran Kasus di Indonesia
Secara kumulatif, kasus Seoul hantavirus ditemukan di sembilan provinsi dengan jumlah terbanyak berada di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.
Berikut sebaran kasus hantavirus di Indonesia:
- Sumatera Barat: 1 kasus
- Banten: 1 kasus
- DKI Jakarta: 6 kasus
- Jawa Barat: 5 kasus
- Jawa Timur: 1 kasus
- DI Yogyakarta: 6 kasus
- NTT: 1 kasus
- Kalimantan Barat: 1 kasus
- Sulawesi Utara: 1 kasus
Pada 2026, Kemenkes mencatat adanya tambahan lima kasus baru.
Andes Virus Belum Ditemukan di RI
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap Andes virus yang dapat menular antarmanusia, Kemenkes menegaskan jenis virus tersebut belum ditemukan di Indonesia.
Pakar infeksi dan penyakit tropik dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dominiscus Husada menyebut Andes virus sejauh ini hanya banyak ditemukan di wilayah Amerika Selatan seperti Argentina dan Chile.
“Setahu saya sampai saat ini tidak ada virus Andes. Ini hanya menyebar di Amerika Selatan, Argentina dan Chili,” ujar Dominiscus dalam konferensi pers.
Kemenkes juga menilai risiko penularan antarmanusia di Indonesia masih rendah dan belum ditemukan kasus serupa hingga saat ini.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


