Selat Hormuz Memanas, Trump Ancam Serangan Ke Jaringan Listrik Iran

0
WASHINGTON, DC - 9 Juli 2025: Presiden AS Donald Trump menjawab pertanyaan selama makan siang multilateral dengan para pemimpin Afrika di Ruang Makan Negara Gedung Putih pada 9 Juli 2025 di Washington, DC. Para pemimpin Gabon, Guinea-Bissau, Liberia, Mauritania, dan Senegal bertemu dengan Trump selama makan siang tersebut. (Foto oleh Win McNamee/Getty Images)

WASHINGTON, DC - 9 Juli 2025: Presiden AS Donald Trump menjawab pertanyaan selama makan siang multilateral dengan para pemimpin Afrika di Ruang Makan Negara Gedung Putih pada 9 Juli 2025 di Washington, DC. Para pemimpin Gabon, Guinea-Bissau, Liberia, Mauritania, dan Senegal bertemu dengan Trump selama makan siang tersebut. (Foto oleh Win McNamee/Getty Images)

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global. Teheran diberi waktu 48 jam untuk membuka kembali jalur tersebut atau menghadapi konsekuensi serius berupa serangan terhadap infrastruktur listriknya.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa AS tidak akan ragu mengambil tindakan militer jika Iran tetap menutup jalur strategis tersebut.

“Jika Iran tidak membuka sepenuhnya Selat Hormuz dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menghantam dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar,” tegas Trump.

Ancaman tersebut menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah Iran disebut telah membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi rute utama distribusi minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan energi global melintasi jalur ini, sehingga gangguan di wilayah tersebut berdampak langsung terhadap harga energi internasional.

Ketegangan meningkat setelah Iran diduga melakukan pembatasan akses kapal sebagai respons atas konflik militer yang melibatkan AS dan sekutunya. Kondisi ini memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran akan krisis pasokan.

Sebelumnya, Trump juga telah memperingatkan bahwa AS memiliki kemampuan untuk melumpuhkan sistem listrik Iran dalam waktu singkat. Pernyataan tersebut mendapat respons keras dari pihak Iran.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, bahkan menegaskan bahwa serangan terhadap jaringan listrik Iran akan berdampak luas.

“Jika mereka melakukannya, seluruh kawasan akan gelap dalam waktu kurang dari setengah jam,” kata Larijani.

Situasi ini menunjukkan potensi konflik yang semakin meluas, tidak hanya berdampak pada Iran dan AS, tetapi juga terhadap stabilitas energi global.

Baca juga:  Pertamina Siaga Hadapi Konflik Timur Tengah, Pantau Operasional Dan Rantai Pasok Energi

Selain itu, ultimatum Trump juga berpotensi memperluas target serangan ke infrastruktur sipil, yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat secara langsung.

Di sisi lain, sejumlah negara sekutu AS dilaporkan masih berhati-hati dalam merespons eskalasi ini, sementara Iran memperingatkan akan melakukan serangan balasan jika wilayahnya diserang.

Dengan meningkatnya tensi geopolitik di kawasan tersebut, dunia kini menyoroti perkembangan dalam 48 jam ke depan yang dinilai krusial bagi stabilitas global, khususnya sektor energi.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement

Tinggalkan Balasan