Pulau Kharg Jadi Target, Trump Tekan Iran Akhiri Perang Sekarang Juga

0
Presiden AS Donald Trump saat pengumuman tentang "Proyek Vault" di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, AS, pada hari Senin, 2 Februari 2026. Trump secara resmi mengumumkan rencana untuk meluncurkan cadangan mineral penting senilai $12 miliar, dalam upaya terbarunya untuk membantu para produsen sekaligus meminimalkan ketergantungan pada logam tanah jarang dari Tiongkok. Fotografer: Bonnie Cash/UPI/Bloomberg via Getty Images

Presiden AS Donald Trump saat pengumuman tentang "Proyek Vault" di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, AS, pada hari Senin, 2 Februari 2026. Trump secara resmi mengumumkan rencana untuk meluncurkan cadangan mineral penting senilai $12 miliar, dalam upaya terbarunya untuk membantu para produsen sekaligus meminimalkan ketergantungan pada logam tanah jarang dari Tiongkok. Fotografer: Bonnie Cash/UPI/Bloomberg via Getty Images

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Trump menyatakan akan menghancurkan pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg apabila Teheran tidak segera menyepakati kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Ancaman tersebut mencakup serangan terhadap berbagai infrastruktur vital Iran, mulai dari pulau strategis Kharg, sumur minyak, hingga pembangkit listrik. Langkah ini disebut sebagai bentuk tekanan agar Iran segera menyetujui perdamaian.

“Trump mengancam akan menghancurkan pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg, sumur minyak, dan pembangkit listrik,” demikian laporan AFP dikutip (31/3).

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara AS dan Iran yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan kedua negara tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memicu kekhawatiran global terkait pasokan energi dunia.

Pulau Kharg sendiri merupakan salah satu aset paling strategis bagi Iran. Wilayah ini menjadi pusat ekspor minyak utama negara tersebut dan berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Gangguan terhadap fasilitas ini berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap pasar energi global.

Dalam beberapa waktu terakhir, konflik antara kedua negara terus meningkat, ditandai dengan serangkaian serangan militer dan retorika keras dari masing-masing pihak. Ancaman terbaru dari Trump dinilai sebagai sinyal bahwa opsi militer masih terbuka jika jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.

Di sisi lain, tekanan internasional terus meningkat agar kedua negara menahan diri dan mengedepankan penyelesaian damai guna menghindari konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan perkembangan terbaru, situasi masih sangat dinamis dan berpotensi berubah sewaktu-waktu, tergantung pada hasil negosiasi yang tengah berlangsung.

(DAW)

Baca juga:  Pengacara Chinette Gallichan Tewas Ditembak, Komunitas Hukum Berduka

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement

Tinggalkan Balasan