Baru Setahun Dicaplok TikTok, Tokopedia Dikabarkan Langsung PHK 90% Karyawannya!
Kantor Tokopedia. Foto: Dok. Istimewa
Newestindonesia.co.id, Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kembali menaungi salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia, Tokopedia. Berdasarkan informasi terbaru yang beredar di media sosial, perusahaan yang identik dengan warna hijau tersebut dikabarkan baru saja melakukan pemangkasan massal yang berdampak hingga 90 persen dari total karyawannya.
Kabar ini pertama kali mencuat dan meramaikan lini masa setelah akun Instagram @ecommurz menyebut bahwa ByteDance, selaku induk usaha TikTok sekaligus pemilik saham mayoritas Tokopedia, melakukan perampingan besar-besaran di awal Juli 2026 ini dan hanya akan menyisakan sekitar 10 persen karyawan.
Menanggapi isu yang berkembang, manajemen TikTok selaku pengendali utama tidak menampik adanya langkah restrukturisasi. Pihak manajemen mengakui bahwa saat ini perusahaan sedang melakukan penyelarasan organisasi, khususnya pada divisi riset dan pengembangan (research and development/R&D). Kendati demikian, TikTok memilih untuk tidak membeberkan secara spesifik jumlah pasti karyawan yang terdampak dalam gelombang PHK kali ini.
“Ini bukan keputusan yang mudah, dan kami fokus untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan kami yang terdampak selama masa transisi ini,” jelas Juru Bicara TikTok dalam pernyataan resminya kepada detikcom, dikutip Sabtu (4/7/2026).
Lebih lanjut, Juru Bicara TikTok menambahkan bahwa langkah ini diambil guna memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” tambahnya.
Gelombang Efisiensi Pasca-Akuisisi Akhir 2023
Langkah efisiensi ini bukanlah kali pertama yang menimpa Tokopedia sejak 75 persen saham perusahaan resmi diakuisisi oleh TikTok pada akhir tahun 2023 lalu. E-commerce yang telah berkiprah selama 17 tahun di pasar digital Indonesia ini tercatat terus mengalami penyesuaian struktur organisasi dan pengurangan pegawai secara berkala setiap tahunnya.
Enam bulan setelah proses akuisisi selesai, tepatnya pada Juni 2024, ByteDance terpantau meluncurkan gelombang PHK pertamanya yang berdampak pada sekitar 450 karyawan Tokopedia. Langkah perampingan perdana tersebut dilakukan setelah ByteDance menggelontorkan dana sebesar US$ 1,5 miliar untuk menyatukan operasional TikTok Shop dengan Tokopedia.
Pada saat itu, Direktur Corporate Affairs Tokopedia dan ShopTokopedia, Nuraini Razak, memberikan penjelasan resmi bahwa pemangkasan dilakukan demi penguatan strategi dan penyelarasan arah baru perusahaan pasca-merger.
“Menyusul penggabungan TikTok dengan Tokopedia, kami telah mengidentifikasi beberapa area yang perlu diperkuat dalam organisasi dan menyelaraskan tim kami agar sesuai dengan tujuan perusahaan. Sebagai hasilnya, kami harus melakukan penyesuaian yang diperlukan pada struktur organisasi sebagai bagian dari strategi perusahaan agar dapat terus tumbuh,” ungkap Nuraini Razak pada Jumat (14/6/2024) silam.
Organisasi Dinilai Terlalu ‘Gemuk’
Tren pengurangan karyawan terus berlanjut memasuki pertengahan tahun 2025. Pada periode Juli hingga Agustus tahun lalu, Tokopedia kembali dilaporkan melakukan pemangkasan terhadap total 420 orang karyawan, dengan rincian 180 orang pada bulan Juli dan 240 orang pada bulan Agustus.
Berdasarkan informasi dari sumber internal, gelombang PHK tahun lalu menyasar sejumlah divisi krusial, mulai dari teknologi informasi (IT), layanan pelanggan (customer care), hingga tim pemenuhan pesanan (fulfillment) dan pergudangan. Sumber tersebut membeberkan bahwa alasan utama di balik keputusan agresif TikTok adalah karena struktur organisasi Tokopedia dinilai terlalu besar atau ‘gemuk’. Penggabungan dua tim dari Tokopedia dan TikTok Shop yang bergerak di ceruk bisnis yang sama dinilai memicu tumpang tindih fungsi kerja.
“Intinya dari TikTok bilang kalau karyawan Tokopedia tuh ‘gemuk’ banget. Jadi harus dipangkas jadi ratusan (karyawan) saja,” ungkap sumber tersebut kala itu.
Dampak dari kebijakan tersebut juga mengubah peta operasional teknis perusahaan. Sebagian besar tim teknis yang tersisa dilaporkan harus berpindah koordinasi langsung ke mainland (daratan) China di bawah pengawasan ketat sistem TikTok pusat. Proses integrasi sistem ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada akhir tahun, di mana operasional Tokopedia yang berbasis di Indonesia ke depannya kemungkinan besar akan lebih difokuskan pada penguatan tim bisnis dan pemasaran saja.
(DAW)
