Tekuk Aljazair 2-0, Swiss Akhiri Kutukan 88 Tahun Untuk Melaju ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
VANCOUVER, KANADA - 02 Juli: Swiss dan Aljazair saling berhadapan dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 di BC Place (Stadion Vancouver) di Vancouver, British Columbia, Kanada, pada 02 Juli 2026. (Foto oleh Ercin Erturk/Anadolu via Getty Images)
Newestindonesia.co.id, Tim nasional Swiss menampilkan performa taktis yang luar biasa untuk menumbangkan Aljazair dengan skor 2-0 pada babak gugur Piala Dunia 2026 di Stadion BC Place, Vancouver.
Kemenangan solid ini tidak hanya mengantarkan skuad asuhan Murat Yakin ke babak 16 besar dengan status tak terkalahkan, tetapi juga mengakhiri kutukan sejarah. Untuk pertama kalinya dalam 88 tahun, Nati—julukan timnas Swiss—berhasil memenangkan pertandingan di fase gugur Piala Dunia setelah selalu kandas dalam tujuh kesempatan sebelum ini.
Siasat Sempurna Menjebak Sang Mantan
Pertandingan ini sarat akan intrik emosional mengingat Aljazair kini ditukangi oleh Vladimir Petkovic—pria yang memimpin Swiss selama tujuh tahun (2014–2021). Memahami betul bahwa Petkovic mengetahui luar dalam karakter bermain anak asuhnya, pelatih Swiss Murat Yakin menerapkan strategi bunglon dengan mengubah formasi demi memasang perangkap serangan balik kilat.
Strategi tersebut langsung membuahkan hasil manis pada menit ke-10. Berawal dari keberhasilan merebut bola di area pertahanan sendiri, gelandang muda berusia 20 tahun, Johan Manzambi, melakukan akselerasi cepat di sisi kiri sebelum melepaskan umpan silang matang. Breel Embolo yang berdiri bebas tanpa kesulitan menceploskan bola dari jarak dekat ke gawang Aljazair yang dikawal Luca Zidane.
Setelah unggul, Granit Xhaka memimpin rekan-rekannya untuk menurunkan tempo dan merubah formasi menjadi lima gelandang sejajar saat kehilangan bola. Taktik defensif berlapis ini membuat Aljazair frustrasi karena ruang kreativitas Riyad Mahrez dkk benar-benar dimatikan.
Seusai pertandingan, pelatih Swiss Murat Yakin memuji kedisiplinan taktis para pemainnya yang mampu menjalankan instruksi dengan sempurna di lapangan.
“Kami tahu menghadapi tim asuhan Vladimir (Petkovic) selalu membutuhkan kecerdikan ekstra. Para pemain bermain dengan kedewasaan taktik yang luar biasa; kami membiarkan mereka menguasai bola namun menutup setiap celah. Ini adalah kemenangan bersejarah bagi Swiss, dan beban 88 tahun itu akhirnya lepas dari pundak kami,” ujar Yakin dalam konferensi pers pasca-laga dikutip melalui Al Jazeera (3/7).
Aljazair baru mendapatkan peluang terbaiknya di masa injury time babak pertama lewat sepakan mendatar Ibrahim Maza, namun arah bola masih menyamping tipis dari tiang gawang Gregor Kobel.
Pukulan Telak Instan di Babak Kedua
Memasuki paruh kedua, Swiss langsung menghentak pertahanan Aljazair tanpa memberikan waktu bagi lawan untuk bernapas. Hanya beberapa detik setelah peluit dibunyikan, Swiss merangsek dari sisi kanan. Sapuan yang kurang sempurna dari bek Aljazair, Rafik Belghali, justru membuat bola jatuh di kaki Dan Ndoye. Winger asal klub Nottingham Forest tersebut dengan tenang melepaskan tembakan melengkung melewati jangkauan Luca Zidane untuk mengubah skor menjadi 2-0 pada menit ke-46.
Kekecewaan mendalam tidak dapat disembunyikan oleh pelatih Aljazair, Vladimir Petkovic, yang harus meratapi kegagalan timnya membongkar pertahanan rapat mantan anak asuhnya tersebut.
“Gol cepat Swiss di awal masing-masing babak merusak seluruh rencana permainan kami. Kami terlalu lambat mengantisipasi serangan balik mereka, dan setelah gol kedua Ndoye, struktur permainan kami kehilangan arah. Swiss layak menang hari ini, mereka bermain sangat klinis,” pungkas Petkovic dengan nada lesu.
Tertinggal dua gol membuat intensitas permainan Aljazair menurun tajam. Takut terkena skema serangan balik mematikan yang menjadi senjata andalan Swiss, anak asuh Petkovic memilih bermain aman di sisa laga demi menghindari kekalahan yang lebih besar.
Meskipun tiket kelolosan sudah berada di tangan Swiss, mereka sejatinya berpeluang memperlebar jarak di menit-menit akhir pertandingan melalui pemain pengganti, Fabian Rieder. Sayang, tendangannya meleset dramatis di depan gawang kosong. Kendati demikian, Swiss tetap menutup laga dengan kemenangan mutlak dua gol tanpa balas dan dijadwalkan menantang pemenang antara Kolombia atau Ghana di Vancouver pekan depan.
(DAW)
