Rupiah Jatuh Ke Rp17.967 per Dolar AS, Pelaku Pasar Waspadai Risiko Baru

Nilai-tukar-rupiah-melemah-terhadap-dolar-080425-Fhs-6.jpg

Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Selasa (8/4/2025). ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh/Spt

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis pagi (25/6/). Mata uang Garuda tercatat melemah menjadi Rp17.967 per dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang masih didorong oleh berbagai indikator ekonomi Negeri Paman Sam yang relatif solid. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar global kembali menempatkan aset berbasis dolar sebagai pilihan investasi yang lebih menarik.

Rupiah Tertekan Sentimen Suku Bunga AS

Analis pasar menilai arah pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang mendorong arus modal global bergerak menuju aset dolar AS.

Kondisi tersebut berdampak pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang mengalami tekanan akibat meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar internasional.

Selain faktor suku bunga, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan The Fed ke depan. Data ketenagakerjaan, inflasi, hingga aktivitas manufaktur Amerika Serikat menjadi indikator utama yang diperhatikan investor.

Penguatan dolar AS yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa pasar masih menilai ekonomi AS cukup kuat untuk menopang kebijakan suku bunga yang ketat. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang menghadapi tantangan lebih besar untuk menguat dalam jangka pendek.

Dalam keterangannya kepada ANTARA, analis menyebut bahwa pelemahan rupiah tidak terlepas dari meningkatnya probabilitas pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve.

Menurutnya, sentimen global masih mendominasi pergerakan pasar keuangan, terutama terkait arah suku bunga AS dan prospek ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, bergerak dalam tekanan.

Baca juga:  Bikin Kaget! Harga Emas Galeri24 Dan UBS Di Pegadaian Mendadak Melonjak

Bank Indonesia Diperkirakan Tetap Jaga Stabilitas Rupiah

Di tengah tekanan eksternal tersebut, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi yang terukur di pasar valuta asing maupun instrumen moneter lainnya. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga volatilitas rupiah agar tetap terkendali.

Selain itu, koordinasi antara otoritas moneter dan pemerintah juga diperlukan untuk menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

Analis memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan cenderung fluktuatif seiring tingginya ketidakpastian global. Pasar akan terus memantau perkembangan kebijakan The Fed, data ekonomi Amerika Serikat, serta sentimen geopolitik yang berpotensi memengaruhi arus modal internasional.

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif terjaga diharapkan dapat menjadi penopang bagi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global yang masih berlangsung.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement