Korea Utara Tegaskan Status Nuklir Tak Bisa Diubah, Kim Yo Jong Kecam G7

gettyimages-2232847511-1024x1024

Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menghadiri resepsi di Balai Besar Rakyat setelah parade militer yang menandai peringatan 80 tahun kemenangan atas Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II, di Beijing pada 3 September 2025. (Foto oleh Jade Gao / AFP) (Foto oleh JADE GAO/AFP via Getty Images)

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, melontarkan kecaman keras terhadap negara-negara anggota G7 yang menyerukan denuklirisasi Pyongyang.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui kantor berita resmi Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), Kim Yo Jong menyebut tuntutan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap konstitusi serta kedaulatan negaranya.

Pernyataan tersebut muncul setelah para pemimpin negara-negara G7 menyatakan keprihatinan mendalam terhadap program nuklir dan rudal balistik Korea Utara serta kembali menegaskan komitmen terhadap denuklirisasi total Semenanjung Korea sesuai resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kim Yo Jong Sebut Denuklirisasi Tak Akan Pernah Terwujud

Dalam pernyataannya, Kim Yo Jong menegaskan bahwa isu denuklirisasi Korea Utara merupakan “agenda yang telah ditetapkan secara permanen” dan tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Ia menekankan bahwa kepemilikan senjata nuklir merupakan kepentingan inti Pyongyang sekaligus garis merah yang tidak dapat diganggu gugat.

“Denuklirisasi merupakan agenda yang telah difinalisasi secara permanen dan tidak akan pernah terwujud,” demikian pernyataan Kim Yo Jong yang dikutip KCNA dan dilansir Reuters.

Kim juga memperingatkan bahwa siapa pun yang berupaya mengganggu kepentingan utama negara pemilik senjata nuklir tersebut akan mengambil keputusan yang berpotensi membawa bencana.

“Siapa pun yang mencoba merugikan kepentingan inti negara pemilik senjata nuklir akan membuat pilihan terburuk dengan mengundang bencana,” kata Kim Yo Jong.

Nuklir Disebut Sebagai Alat Pertahanan Diri

Kim Yo Jong juga menegaskan bahwa persenjataan nuklir Korea Utara dikembangkan sebagai alat pencegah untuk mempertahankan diri.

Menurutnya, kemampuan tersebut diperoleh sebagai respons atas ancaman nuklir yang terus-menerus datang dari pihak yang dianggap sebagai musuh Korea Utara.

Baca juga:  Menhan Israel Ancam Bunuh Pemimpin Iran, Konflik Kian Memanas

Ia menggambarkan senjata nuklir negaranya sebagai “landasan” yang menjamin perdamaian dan keamanan nasional.

“Senjata nuklir Korea Utara merupakan pencegah untuk pertahanan diri yang diperoleh sebagai respons terhadap ancaman nuklir yang terus-menerus dari musuh-musuhnya,” ujar Kim Yo Jong.

Kim Yo Jong: Seruan Denuklirisasi Sudah Ketinggalan Zaman

Lebih lanjut, adik Kim Jong Un itu menyebut bahwa berbagai seruan internasional mengenai denuklirisasi sudah tidak relevan dengan situasi saat ini.

Menurutnya, kritik yang disampaikan berbagai negara terhadap program nuklir Pyongyang tidak akan mengubah posisi Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir.

“Argumen yang menyerukan denuklirisasi sama sekali sudah ketinggalan zaman dan tidak akan berubah, tidak peduli seberapa keras kelompok mana pun mengkritik program nuklir Korea Utara,” tegasnya.

G7 Soroti Program Nuklir dan Rudal Balistik Korut

Sebelumnya, para pemimpin negara-negara G7 dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan tingkat tinggi mereka menyampaikan kekhawatiran serius atas perkembangan program nuklir dan rudal balistik Korea Utara.

Mereka menegaskan kembali komitmen terhadap denuklirisasi penuh Korea Utara sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Selain itu, para pemimpin G7 juga mendesak Pyongyang untuk menyelesaikan masalah warga Jepang yang pernah diculik Korea Utara dan meningkatkan kerja sama internasional dalam menangani kasus pencurian mata uang kripto serta kejahatan siber yang dituduhkan kepada negara tersebut.

Ketegangan Mengenai Program Nuklir Korut Terus Berlanjut

Pernyataan terbaru Kim Yo Jong menunjukkan bahwa Korea Utara tetap mempertahankan sikap keras mengenai statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir.

Pyongyang secara konsisten menolak berbagai seruan dari Amerika Serikat maupun negara-negara sekutunya untuk menghentikan program nuklir yang telah lama menjadi sumber ketegangan di kawasan Asia Timur.

Baca juga:  Ngeri! Pertunjukan Drone Dan Kembang Api Di China Jadi Hujan Api

Dengan posisi yang semakin tegas tersebut, peluang untuk mencapai denuklirisasi Semenanjung Korea dalam waktu dekat diperkirakan masih menghadapi tantangan besar, terutama di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik antara negara-negara besar dunia.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement