Serangan AS Ke Iran Picu Aksi Balasan, Situasi Teluk Kian Mencekam

situs-nuklir-diserang-as-iran-balas-serang-tanker-minyak-1774950847531_169

Foto: Ilustrasi. (DW News)

Newestindonesia.co.id, Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer terhadap Iran. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran yang menargetkan sejumlah fasilitas dan kepentingan militer AS di kawasan Teluk.

Laporan yang berkembang pada Rabu (10/6/2026) menyebutkan ledakan terdengar di sejumlah wilayah Iran, khususnya di Provinsi Hormozgan. Beberapa lokasi yang dilaporkan terdampak antara lain Pulau Qeshm dan kawasan pesisir di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Aktivitas jet tempur AS juga dilaporkan meningkat di wilayah udara sekitar Iran.

AS Sebut Serangan sebagai Respons Proporsional

Militer AS menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas insiden penembakan jatuh helikopter Apache milik Angkatan Darat Amerika sehari sebelumnya di kawasan Selat Hormuz. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), serangan dilakukan atas perintah pimpinan tertinggi militer Amerika.

Dalam pernyataannya yang dipublikasikan melalui media sosial X, CENTCOM menyebut:

“Pasukan Amerika mulai melancarkan serangan pertahanan diri terhadap Iran, pada pukul 17.00 ET (04.00 WIB) hari ini atas arahan Panglima Tertinggi, sebagai respons terhadap jatuhnya helikopter Apache Angkatan Darat AS kemarin,” dikutip AFP melalui detikNews.

CENTCOM menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan tindakan yang dianggap sepadan dengan ancaman yang diterima.

“Misi ini merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan.”

Iran Bereaksi Keras

Pemerintah Iran langsung merespons serangan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan AS agar meninggalkan wilayah Iran jika ingin menghindari konsekuensi lebih lanjut.

Melalui akun resmi X miliknya, Araghchi menyampaikan pesan tegas kepada Washington.

“Tinggalkan wilayah kami jika Anda ingin aman.”

Ia juga menegaskan bahwa setiap serangan yang dilakukan terhadap Iran tidak akan dibiarkan tanpa balasan.

Baca juga:  Pohon Berusia 400 Tahun, Pejabat Relokasi Telan Anggaran Hingga Rp15 Miliar

“Meskipun kalah di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami. Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa balasan.”

Iran Klaim Serang 21 Target Militer AS

Tak lama setelah serangan Amerika, Iran mengumumkan operasi balasan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk. Teheran mengklaim telah menyerang 21 target militer Amerika di Timur Tengah.

Selain itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan berhasil menembak jatuh sebuah drone pengintai MQ-9 Reaper milik AS yang terbang di wilayah udara Iran, tepatnya di Provinsi Bushehr bagian selatan negara tersebut.

IRGC juga mengaku melancarkan serangan drone terhadap pangkalan Armada Kelima AS yang berada di Bahrain. Menurut pernyataan mereka, operasi dilakukan sekitar pukul 02.30 waktu setempat pada Rabu dini hari.

Dalam pernyataan resminya, IRGC memperingatkan bahwa operasi yang lebih besar dapat dilakukan apabila AS terus melanjutkan tindakan militernya.

“Lebih berat dan lebih luas” akan menyusul jika AS terus melakukan agresi terhadap Iran.

Pihak militer Iran menegaskan bahwa seluruh operasi tersebut merupakan balasan atas serangan AS yang menargetkan wilayah Jask, Sirik, dan Qeshm di bagian selatan Iran.

Bahrain Cegat Rudal dan Drone Iran

Ketegangan semakin meningkat setelah Bahrain mengumumkan keberhasilannya mencegat serangan rudal dan drone yang disebut berasal dari Iran. Sistem pertahanan udara negara kerajaan tersebut diklaim mampu menghancurkan seluruh ancaman yang mengarah ke wilayahnya.

Komando Umum Angkatan Pertahanan Bahrain menuding Iran terus melakukan tindakan yang mengancam stabilitas kawasan.

Menurut pernyataan resmi yang dikutip Bahrain News Agency, Iran disebut:

“terus melanjutkan pendekatan permusuhan sistematisnya melalui serangan rudal dan drone kriminal, yang menargetkan warga sipil di Kerajaan Bahrain.”

Baca juga:  Ketegangan Memuncak, AS Siap Tinjau Hubungan NATO Usai Konflik Iran

Otoritas Bahrain juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan puing-puing sisa serangan yang jatuh di wilayah negara tersebut.

“Komando Umum menyerukan masyarakat untuk berhati-hati terhadap benda-benda asing atau mencurigakan, yang berasal dari sisa-sisa serangan brutal Iran.”

Ancaman Terhadap Stabilitas Kawasan

Eskalasi terbaru antara AS dan Iran menambah daftar panjang ketegangan di Timur Tengah yang dalam beberapa tahun terakhir terus berulang. Keterlibatan sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain, menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu stabilitas kawasan serta jalur perdagangan internasional yang melewati Selat Hormuz.

Sejumlah pihak kini memantau perkembangan situasi dengan cermat, terutama setelah kedua negara saling melancarkan serangan dan mengeluarkan ancaman balasan lebih lanjut.

(DAW)