Newestindonesia.co.id, Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk segera mengambil langkah tegas menyusul serangan Iran terhadap wilayah UEA. Ketegangan di kawasan Teluk pun kembali meningkat di tengah ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Desakan tersebut disampaikan menjelang pembicaraan tertutup Dewan Keamanan PBB yang digelar atas permintaan Bahrain. Dalam pernyataannya, Duta Besar Bahrain untuk PBB, Jamal Fares Alrowaiei, menegaskan solidaritas penuh negaranya kepada UEA sekaligus mengutuk keras serangan yang disebut dilakukan Iran pada 4 Mei lalu.
“Keamanan kawasan tidak dapat dipisahkan, dan serangan semacam itu harus segera dihentikan,” ujar Alrowaiei seperti dilansir Al Arabiya, Kamis (7/5/2026). Ia juga menekankan bahwa situasi tersebut membutuhkan “tanggapan yang kredibel, bersatu, dan tegas dari komunitas internasional dan khususnya dari Dewan Keamanan.”
Sementara itu, Duta Besar UEA untuk PBB Mohamed Abushahab mengungkapkan bahwa Iran disebut meluncurkan 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, serta empat drone yang diarahkan langsung ke wilayah UEA. Serangan itu, menurutnya, menyasar fasilitas energi sipil penting di Fujairah dan memicu kebakaran di zona industri minyak.
Abushahab mengatakan sistem pertahanan udara UEA berhasil mencegat sebagian besar ancaman sehingga kerusakan dapat diminimalisir. Meski demikian, tiga warga sipil dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
UEA juga menuding tindakan Iran melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817 yang sebelumnya mendapat dukungan luas dari negara-negara anggota PBB. Menurut Abushahab, pelanggaran itu menunjukkan ketidakpatuhan Iran terhadap kehendak komunitas internasional.
Selain serangan ke wilayah UEA, ketegangan di kawasan juga diperparah oleh situasi di Selat Hormuz. Abushahab menyebut kapal-kapal komersial masih menghadapi ancaman serangan di jalur pelayaran penting tersebut. Ia memperingatkan dampak gangguan di Selat Hormuz tidak hanya dirasakan kawasan Teluk, tetapi juga dapat mempengaruhi rantai pasokan global, harga energi, hingga stabilitas ekonomi dunia.
Dalam perkembangan lain, Dewan Keamanan PBB diketahui mulai membahas rancangan resolusi yang disusun Amerika Serikat bersama Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Resolusi itu menuntut Iran menghentikan serangan serta aktivitas pemasangan ranjau di Selat Hormuz.
Situasi di kawasan Teluk sendiri terus memanas dalam beberapa pekan terakhir. Amerika Serikat sebelumnya juga dilaporkan menembaki kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman setelah kapal tersebut dianggap melanggar blokade laut yang diberlakukan Washington.
Di sisi lain, Iran membantah tuduhan keterlibatan militernya dalam sejumlah insiden di Selat Hormuz, termasuk ledakan yang menimpa kapal Korea Selatan beberapa waktu lalu. Pemerintah Teheran menegaskan pelayaran di kawasan tersebut harus mematuhi aturan keamanan yang berlaku.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat juga masih berlangsung di tengah negosiasi terkait program nuklir Teheran. Presiden AS Donald Trump bahkan mengklaim Iran telah menyetujui proposal agar tidak memiliki senjata nuklir, meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran mengenai kesepakatan tersebut.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


