Newestindonesia.co.id, Pemerintah berencana menerapkan kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam seminggu sebagai langkah efisiensi energi, khususnya untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah ketidakpastian pasokan global.
Kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat penggunaan BBM hingga sekitar 20%. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut angka tersebut berasal dari perhitungan kasar yang menunjukkan potensi pengurangan konsumsi energi akibat berkurangnya mobilitas pekerja.
“Ada hitungan kasar sekali, bukan saya yang hitung. Kalau kasar lah seharian… seperlimanya, 20% kira-kira,” ujar Purbaya usai salat Idul Fitri di Masjid Salahuddin, Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta dikutip melalui detikFinance.
Antisipasi Krisis Minyak Global
Rencana kebijakan ini muncul sebagai respons pemerintah terhadap ancaman terganggunya pasokan minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga energi sekaligus menekan ketersediaan BBM.
Pemerintah melihat pengurangan mobilitas harian pekerja sebagai langkah cepat untuk mengendalikan konsumsi energi nasional.
Selain WFH, pemerintah juga tengah menyiapkan langkah lain seperti peningkatan produksi batu bara hingga percepatan transisi energi melalui konversi pembangkit listrik berbasis diesel ke energi terbarukan.
Berlaku untuk ASN dan Swasta
Kebijakan WFH ini direncanakan berlaku tidak hanya bagi aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga pekerja sektor swasta. Namun, implementasinya masih dalam tahap pembahasan dan akan disesuaikan dengan karakter masing-masing sektor pekerjaan.
“WFH bagaimana itu kadang-kadang ada hal-hal yang nggak bisa dikerjakan dengan baik kalau disuruh WFH,” kata Purbaya.
Pemerintah juga menegaskan tidak semua sektor dapat menerapkan sistem kerja jarak jauh, terutama yang berkaitan dengan layanan publik dan operasional langsung.
Wacana Diterapkan Setiap Jumat
Dalam skenario awal, WFH satu hari dalam seminggu berpotensi diterapkan setiap hari Jumat. Hal ini dinilai efektif karena berdekatan dengan akhir pekan, sehingga dapat menciptakan tiga hari aktivitas berbasis rumah.
“Jumat kan ditambah Sabtu-Minggu jadi 3 hari itu lumayan… mungkin turisme juga akan terdorong sedikit,” jelas Purbaya.
Berlaku Setelah Lebaran
Pemerintah menargetkan kebijakan ini mulai diterapkan setelah periode libur Lebaran 2026. Meski demikian, waktu pelaksanaan pasti masih dalam tahap kajian dan akan diumumkan setelah pembahasan lintas kementerian selesai.
Kebijakan ini juga bersifat fleksibel dan akan menyesuaikan dengan perkembangan situasi global, khususnya terkait harga minyak dan dinamika konflik internasional.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login