Newestindonesia.co.id – Jakarta, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) masih mencatatkan kinerja negatif sepanjang tahun buku 2025 dengan membukukan kerugian bersih sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,39 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan pada Rabu (18/3/2026), kerugian tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya, seiring tekanan pada pendapatan dan masih tingginya beban operasional serta keuangan perusahaan.
Dari sisi top line, pendapatan usaha konsolidasi Garuda Indonesia tercatat sebesar US$3,22 miliar, turun sekitar 5,85% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$3,42 miliar.
Penurunan tersebut terutama berasal dari segmen penerbangan berjadwal yang mengalami kontraksi 8,30% secara tahunan menjadi US$2,51 miliar. Sementara itu, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal justru tumbuh 2,13% menjadi US$340,88 juta.
Selain penurunan pendapatan, tekanan terhadap kinerja perseroan juga dipengaruhi oleh tingginya beban operasional dan biaya keuangan yang masih harus ditanggung di tengah proses pemulihan bisnis.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan operasional yang dihadapi sepanjang 2025. Salah satunya adalah keterbatasan kapasitas produksi akibat sejumlah armada yang belum dapat beroperasi secara optimal.
Ia menyebutkan, sebagian pesawat masih menjalani perawatan sehingga berdampak pada ketersediaan armada dan jumlah penerbangan. Selain itu, tekanan nilai tukar dan peningkatan biaya tetap juga turut memengaruhi kinerja keuangan perseroan.
Meski demikian, manajemen optimistis tahun 2026 akan menjadi momentum pemulihan atau fase turnaround bagi Garuda Indonesia.
Glenny mengatakan,
“tahun 2026 sebagai titik akselerasi pemulihan kinerja Perusahaan,”
Ia menambahkan, pemulihan tersebut akan didorong oleh berbagai langkah transformasi yang telah disiapkan, termasuk optimalisasi jaringan rute, peningkatan jumlah armada, hingga penguatan manajemen pendapatan.
Secara keseluruhan, Garuda Indonesia menyiapkan sedikitnya 11 strategi utama untuk memperbaiki kinerja bisnis, mulai dari digitalisasi platform, monetisasi kargo, hingga efisiensi operasional yang lebih berkelanjutan.
Di tengah tekanan tersebut, perusahaan tetap berupaya meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat fundamental bisnis sebagai maskapai nasional, dengan harapan dapat kembali mencatatkan kinerja positif secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login